Tamu Allah

Share on facebook
Share on twitter
Share on google
Share on linkedin
haji tamu allah

Tadi siang, 20/07/19, aku diminta “taushiyah“, pesan, dalam acara “Walimah Safar“, walimah berangkat haji. Semacam acara pamitan akan berangkat haji sekaligus mohon doa dari para keluarga dan handaitolan. Siang itu adalah ibu Zahra bersama suaminya bapak Awing.

Aku bilang “walimah safar” ini salah satu bentuk “Islam Nusantara” yang relatif baru. Pamitan, mohon maaf dan mohon doa restu adalah ajaran Islam. Caranya merupakan cara masyarakat Indonesia. Ia seperti acara “Halal bi Halal”. Silaturrahim adalah ajaran Islam, acara pertemuan itu merupakan cara orang Indonesia. Dulu orang yang akan pergi jauh mendatangi satu persatu tetangganya dan teman-temannya. Sekarang mereka yang datang ke rumah orang yang pamit untuk pergi jauh.

Jadi essensinya Islam, bungkusnya model Indonesia.

Lalu aku memulai taushiyah dengan bercerita tentang Rabi’ah al-Adawiyyah, perempuan sufi master, kepadanya para ulama laki-laki belajar tasawuf.

Suatu saat yang direncanakan dia sendirian berangkat haji, dari kampungnya di Basrah, Irak dengan jalan kaki. Di tengah jalan dia bertemu dengan rombongan haji. Rabiah bertanya kepada mereka : “saudara-saudara mau kemana ya?”. Rabi’ah menjawab : “mengunjungi Ka’bah, Baitullah, rumah Allah”. Mereka balik bertanya : “kalau ibu”?. “Aku akan nengunjungi “Rabb al-Kakbah” (pemilik Kakbah. Aku akan menjadi tamu Allah”.

Lalu Rabi’ah bermunajat kepada Allah;

ما عبدتُك خوفاً من نارك، ولا طمعاً في جنتك، اللهم إن كنتُ عبدتك خوفاً من نارك فاحرقني بنارك، وإن كنتُ أعبدك طمعاً في جنتك فاحرمني من جنتك، وإن كنت أعبدك رجاء وجهك فلا تحرمني النظر إليك)،

“Wahai Tuhan, aku menyembah-Mu bukan karena takut masuk neraka dan bukan karena mengharap surga. Jika aku menyembah-Mu karena takut masuk neraka, maka bakarlah aku.Jika aku mengharap surga-Mu, maka tutuplah surga itu. Tetapi jika aku menyembah-Mu karena ingin bertemu Diri-Mu, maka tolong jangan tutup pintu-Mu agar aku bisa memandang-Mu”.

Jadi aku pesan kepada Awing dan Zahra agar ikhlas karena dan untuk Allah saja serta menjadi tamu yang baik. Menjaga etika, menurut dan pasrah kepada tuan rumah. Pepatah mengatakan : “Al-Dhaif ‘inda al-Mudhif ka al-Mayyit ‘inda al-Ghasil”. Tamu di hadapan tuan rumah bagaikan mayit di hadapan tukang memandikannya.

Itulah pendahuluan.

21.07.19
HM

Related Posts

Populer