Silaturrahim

Share on facebook
Share on twitter
Share on google
Share on linkedin
silaturrahim

عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ رض قَالَ: لَقِيْتُ رَسُوْلَ اللهِ ص فَبَدَرْتُهُ اَخَذْتُ بِيَدِهِ وَ بَدَرَنِى فَاَخَذَ بِيَدِى فَقَالَ: يَا عُقْبَةُ، اَلاَ اُخْبِرُكَ بِاَفْضَلِ اَخْلاَقِ اَهْلِ الدُّنْيَا وَ اْلآخِرَةِ؟ تَصِلُ مَنْ قَطَعَكَ وَ تُعْطِى مَنْ حَرَمَكَ وَ تَعْفُوْ عَمَّنْ ظَلَمَكَ. اَلاَ وَ مَنْ اَرَادَ اَنْ يُمَدَّ فِى عُمُرِهِ وَ يُبْسَطَ فِى رِزْقِهِ فَلْيَصِلْ ذَا رَحِمِهِ. الحاكم 4: 178

Dari Uqbah bin Amir: Suatu hari aku bertemu Rasulullah SAW. Aku segera menghampiri dan memegang tangannya dan beliau memegang tanganku. Beliau mengatakan “Uqbah, apakah kamu ingin aku beritahu akhlak yang lebih utama penghuni dunia dan penghuni akhirat? “Tentu saja, wahai Nabi”, jawab Uqbah. Nabi mengatakan : “Ia adalah menjalin kembali hubungan persaudaraan yang putus, menyantuni orang yang memutuskan hubungan denganmu dan memaafkan orang yang menganiayamu. Ketahuilah, siapa saja yang ingin dipanjangkan umurnya dan banyak rizki, maka hendaklah silaturrahim”.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ : مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ أَوْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ .

“Siapa yang ingin dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah menjaga “silaturrahim” (hubunganpersaudaraan).

Itu adalah penjelasan Nabi saw atas ayat al-Qur’an:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

“Wahai manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari ebtitas/sumber yang sama, dan dari padanya Allah menciptakan pasangannya; dan dari keduanya Allah mengembangbiakkan : laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling memberi, dan (peliharalah) hubungan saling silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu”.

Ayat al-Qur’an di atas menunjukkan bahwa semua manusia adalah saudara, berasal dari satu sumber.

Bagaimana bentuk dan teknis Silaturrahim itu? Ibnu Abidin al-Hanafi, penulis kitab Radd al-Muhtar ala ad-Dur al-Mukhtar, sebuah buku tentang yurisprudensi Islam dalam mazhab Hanafi mengatakan :

صِلَةُ الرَّحِمِ وَاجِبَةٌ وَلَوْ كَانَتْ بِسَلَامٍ وَتَحِيَّةٍ وَ هَدِيَّةٍ وَ مُعَاوَنَةٍ وَ مُجَالَسَةٍ وَ مُكَالَمَةٍ وَ تَلَطُّفٍ وَ إِحْسَانٍ وَإنْ كَانَ غَائِبًا يَصِلُهُمْ بِالْمَكْتُوبِ إِلَيْهِمْ فَإِنْ قَدَرَ عَلَى السَّيْرِ كَان أَفْضَلَ

“Menyambung silaturahim (tali persaudaraan) adalah sangat penting meskipun hanya dengan mengucapkan salam, memberi hadiah, memberi pertolongan, duduk bareng, saling mendengar, bersikap ramah dan berbuat baik. Kalau seseorang yang hendak disilaturahmi berada di lain tempat cukup dengan berkirim surat, namun akan lebih afdol jika dia bisa berkunjung untuk menemuinya”.

Related Posts

Populer