Hari raya ‘Îdul Fitri, perhelatan spiritual paling kolosal di muka bumi telah usai dalam nuansa haru biru, menggairahkan dan menggetarkan. Keceriaan ada di mana-mana. Anak-anak menari-nari dengan riang, bola mata mereka berbinar-binar. Semua sudah kembali ke pangkuan ibu. Semua orang seakan kembali menjadi karib dan sahabat manis. Betapa damai dan indahnya.

Kini kita kembali menelusuri perjalanan hidup seperti hari-hari biasa bergerak dalam ruang dan waktu masing-masing. Kita kembali akan menjalani sebuah siklus yang tetap; bangun, ke kantor atau tempat kerja, ke ladang atau ke pasar, pulang dan tidur. Dan kita tidak tahu apakah hari-hari kita masih akan panjang atau pendek. Semuanya tanpa kepastian.

Hidup menurut Nabi adalah bagai sebuah perjalanan dan setiap orang bagai pengembara:ka ‘abiri sabîl di belantara. Lalu Al-Qur’ân bertanya: “Fa Aina Tadzhabûn?” (Hendak kemana kalian akan pergi?). Manusia menjawab: Kita akan pergi menuju ke sebuah titik berhenti dan tak akan kembali, yang bernama kematian. Lalu jalan manakah yang akan kita tempuh. Ada dua jalan saja yang bisa kita tempuh, jalan menuju kebahagiaan abadi atau jalan menuju kesengsaraan yang mungkin juga abadi. Dan jalan-jalan itu telah dibentangkan di hadapan manusia. Mereka bebas memilih antara keduanya. Tuhan sudah memberikan mata, telinga, hati dan akal. Tuhan juga menyediakan segala fasilitas bagi hidup dan kehidupan manusia dengan gratis. Mata, telinga, hati dan akal memiliki makna berganda. Mata adalah alat untuk melihat segala sesuatu, baik atau buruk, tetapi ia juga bisa membaca tanda-tanda alam, symbol-simbol semesta. Manusia dianjurkan menebak dan memaknainya, terserah untuk apa. Telinga di samping untuk mendengar bunyi atau suara, ia juga menyimpan apa saja yang didengarnya. Akal berfungsi menerima informasi dari indera yang lain lalu mengolah dan menyimpulkannya. Tuhan berharap agar semua anugerah cuma-cuma itu digunakan untuk kebaikan manusia sendiri. Dia sendiri tak membutuhkannya. Hidup adalah pilihan-pilihan.

Orang-orang yang tercerahkan mengajarkan kepada kita tentang jalan yang terbaik, dan yang termudah yang dapat mengantarkan kepada tempat persinggahan terakhir kita, kembali kepada Tuhan, tempat kita berasal, dengan nyaman. Jalan itu ialah pelayanan kepada orang lain. Sufi besar Abu Sa’id Ibn Abi al-Khair (w. 1049). Ketika dia ditanya “Ma ‘adad al thuruq min al khalq ila al Haqq” (ada berapa banyak jalan manusia menuju Tuhan?, dia menjawab:

“فى رواية اكثر من الف طريق. وفى راواية أخرى الطريق الى الحق بعدد ذرات الموجودات. ولكن ليس هناك طريق اقرب وافضل واسرع من العمل على راحة شخص.وقد سرت فى هذا الطريق وانى اوصى الجميع به”

“Menurut sebuah riwayat, ada seribu jalan, menurut riwayat yang lain, jalan itu sebanyak partikel yang ada di alam semesta ini, tetapi jalan yang terpendek, terbaik dan termudah menuju Dia adalah memberi kenyamanan kepada orang lain”. (Asrar al Tauhid fi Maqaamaat Abi Sa’id, h. 327).

Jawaban Abu Sa’id ini menegaskan kembali pesan Nabi: “Khair al Naas Amfa’uhum li al Naas” (yang terbaik di antara kalian adalah yang paling banyak memberi kenyamanan bagi orang lain”. Dan “al Naas” (manusia) adalah siapapun yang disebut manusia, tak peduli apapun simbol yang dipakainya atau bahkan yang tak pakai simbol. Atau seperti kata Nabi yang lain: “al Muslim ma Salima al Muslimun min Lisanih wa Yadih” (Orang yang menyerah kepadaTuhan, adalah dia yang membuat orang lain jadi nyaman).

O, para pengembara
Berapa panjang jalan yang telah kau tempuh
Nafasmu telah hilang satu satu
Berapa lagikah nafas yang masih tersisa?
O, pengembara, apa yang kau cari di jalan ini
Periksalah bekalmu, sudah cukupkah?
Hingga kau sampai di tempat singgahmu dengan damai

(Cirebon, 13 September 2010)