buya husein

Di kafe basa basi Yogyakarta, tadi malam, 14.10.18, aku membacakan puisi ini lagi.

Labid bin Rabi’, penyair besar Arab pra Islam, saat masih musyrik membaca puisi di hadapan Nabi Saw.

اَلاَ كُلُّ شَيْئٍ ماَ خَلا الله باَطِلُ
وَكلّ نــَعِيْمٍ لاَ مـَحَالـَةَ زَائِلُ
،
وكُلُّ أُناسٍ سَوْفَ تَدْخُلُ بَيْنَهُمْ
دَوِيـْهِيَّةٌ تـَصْفَرُّ مِنْها اْلأنامِلُ

وكُلّ امْرِئٍ يـَوْمًا سيَعْلَمُ غَيْبَهُ
إذا كُشِفَتْ عِنْد اْلاِلَهِ الْحَصَائِلُ

“Ingatlah, segala sesuatu selain Allah pasti akan lenyap
dan setiap kenikmatan pasti akan sirna”

“Suatu saat, setiap orang pasti akan dijemput oleh maut yang membuat jari-jari pucat pasi”.

“Setiap orang kelak pada saatnya akan melihat hasil kerjanya,
saat lembar-lembar catatan dibacanya di depan Tuhan”.

Begitu usai Nabi memberi komentar :

“Puisi terbaik yang pernah digubah seorang penyair adalah puisi Labid”.

Al-Quran mengatakan :

“Sesungguh, segala sesuatu selain Allah pasti akan hilang lenyap. Yang Eksis hanyalah Dia”.

Seorang sufi besar Syeikh Hasan Ridwan :

وكل ما سواه نجم آفل
بل فى شهود العارفين باطل

Seluruhnya, selain Dia adalah
bintang yang lenyap
Dalam tatapan mata para bijakbestari ia adalah ketiadaan

15.10.18
Menuju rumah