Puasa; Momen Permenungan

Share on facebook
Share on twitter
Share on google
Share on linkedin
buya husein

Puasa sepenuhnya merupakan moment spritualitas dan cara pengabdian kepada Tuhan paling eksklusif. “Semua tindakan manusia dapat diidentifikasi dan dinilai oleh manusia sendiri, kecuali puasa. Untuk tindakan pengabdian ini, Akulah yang menilainya”. Demikian Nabi pernah menyampaikan kata-kata Tuhan.

Moment istimewa itu diselenggarakan dalam satu bulan. Hari-hari selama itu disediakan Tuhan bagi mereka yang percaya untuk merenung dan berkontempelasi atas apa yang telah mereka tempuh dalam perjalanan hidupnya. Sesudah itu, manusia diharapkan tampil kembali sebagai pribadi-pribadi yang berguna bagi kemanusiaan. Puasa sesungguhnya tidak hanya diajarkan Islam, melainkan juga agama-agama dan kepercayaan yang lain, melalui tatacaranya masing-masing.

Sejak awal, Tuhan menaruh kepercayaan pengaturan kehidupan di dunia ini kepada manusia. Dia berharap manusia bisa membangun kehidupan bersama yang saling menghormati dan saling menyejahterakan.

Untuk keperluan itu Tuhan membekalinya dengan seluruh perangkat yang memungkinkan mereka dapat mengerjakan semua tugas kemanusiaan itu dengan sebaik-baiknya.

Tuhan memberi manusia akal untuk memikirkan, hati untuk mengalami dan hasrat untuk menggerakkan. Ketiganya yang bersifat spiritual itu secara genuin diciptakan dalam keadaan suci dan baik.

Tetapi dalam perjalanannya manusia seringkali menjadi makhluk yang lemah dan bodoh. Ia sering lalai, mudah tergoda, terperangkap dan tergelincir ke dalam tindakan-tindakan yang menyimpang; merendahkan, mendiskriminasi dan menzalimi orang lain.

Manusia juga mudah tertarik pada dan tertipu oleh hasrat-hasrat yang rendah dan kesenangan-kesenangan sesaat (duniawi) ; memuja harta, jabatan, seks, golongannya sendiri, keturunan, dan sebagainya. Hasrat-hasrat diri ini, amat sering melalaikan, memperdaya, menindas dan tak menghargai hak orang lain.

Manusia acapkali tak mampu mengendalikan hasrat-hasrat rendah yang menyesatkan itu.

Lihat, hari-hari ini di negeri ini kita masih belum selesai menyaksikan kisah-kisah penderitaan manusia, hamba-hamba Tuhan. Masih begitu banyak masyarakat ini menderita dan terlunta-lunta karena kelaparan, kemiskinan dan tak mengerti.

Hari-hari ini kita juga menyaksikan beragam tindakan manusia yang melukai sesamanya baik di dalam rumahnya sendiri maupun di ruang bersama. Berapa banyak sudah kaum perempuan, para isteri dan anak-anak; orang-orang yang paling dicintai, terluka baik tubuh maupun hatinya. Ada ratusan ribu perempuan korban kekerasan dalam rumah. Seringkali mereka dilukai hanya karena mereka perempuan.

Berapa banyak buruh dan pekerja kasar yang tak memperoleh hak-haknya. Hanya karena dianggap lemah, mereka diperlakukan seakan-akan manusia tak berharga dan boleh diperlakukan sesuka hati. Pada saat lain, kita juga menyaksikan rumah-rumah, tempat di mana Tuhan diagungkan dan dimuliakan, dirusak dan dihancurkan, hanya karena mereka punya keyakinan yang berbeda dan dianggap kecil dalam komunitasnya.

Berhari-hari kita membaca betapa banyak hasil jerih payah dan keringat orang-orang lemah diambil begitu saja, baik secara terang-terangan maupun diam-diam, hanya karena mereka dianggap tak tahu, dianggap tak penting dan tak punya kuasa. Betapa manusia, ciptaan Tuhan yang terhormat itu, tengah mengalami situasi kejiwaan yang rusak, terbelah dan menyimpang.

Puasa adalah moment permenungan diri atas hasrat-hasrat yang rendah, sesaat dan menderitakan itu sekaligus untuk memulihkannya. Pembiaran hasrat-hasrat rendah yang tak terkendali selalu akan melahirkan malapetaka social dan kemanusiaan.

Islam dan agama-agama lain berpendirian bahwa kehidupan yang adil dan sejahtera di dunia ini, tak mungkin terwujud apabila orang-orang yang lemah tidak mendapat perhatian, layanan dan perlakuan yang adil dari masyarakat yang berada dan kuat.

Para fakir, kaum miskin dan kaum perempuan di samping adalah hamba-hamba Tuhan, sejatinya adalah sendi dan tulang punggung kekuatan suatu masyarakat. Betapa banyak kehidupan kita bergantung kepada mereka.

Kita tidak mungkin bisa hidup tanpa mereka. “Innamâ tunsharûn wa turzaqûna bi dhu’afâikum” (Sesungguhnya kalian ditolong dan diberi rizki oleh orang-orang yang lemah di antara kamu). Kata Nabi yang mulia. Mereka yang disisihkan hanya karena mereka kecil atau dianggap kecil (minoritas) tetap saja harus dihargai hak-haknya baik hak hidup maupun hak untuk mengabdi, mengagungkan dan memuliakan Tuhan, apapun nama-Nya.

Karena tubuh dan ruh mereka adalah milik Tuhan dan akan kembali kepada-Nya. Pesan-pesan agama di atas diarahkan dalam kerangka besar kehidupan bersama yang adil dan saling membagi kesejahteraan. Dalam dunia yang adil setiap warga mendapat haknya sesuai dengan kewajiban yang dibebankan atas diri mereka.

Puasa sebentar lagi akan berakhir. Sepuluh hari terakhir bagi jiwa-jiwa yang tercerahkan merupakan hari-hari paling mendebarkan. Kekasih sebentar lagi akan pergi. Kandil-kandil yang berkedip menghiasi masjid, khanaqah, ribath atau zawiyah, pada dini hari, akan diredupkan. Ruang-ruang tempat sujud itu akan menjadi temaram. Para Malaikat, akan turun dan hadir di masjid, beribadah dan mendoakan ampunan dan rahmat bagi orang-orang yang mencintai seluruh ciptaan Tuhan. Jiwa-jiwa yang tercerahkan akan segera bergabung. Permenungan mereka semakin dalam. Dan mereka mendesah:

الى كم انت فى بحر الخطايا تبارز من يراك ولا تراه
وسمتك سمت ذى ورع تقى وفعلك فعل متبع هواه
فيا من بات يخلو بالمعاصى وعين الله شاهدة تراه
فتب قبل الممات وقبل يوم يلاقى العبد ما كسبت يداه

Akan seberapa sering lagikah kau berenang di lautan salah Kau pertontonkan itu ke hadapan Dia Yang Melihatmu,
dan kau tak melihat-Nya
Kau sering tampil bagai orang saleh dan bersih
Tapi lakumu penuh hasrat rendah
Wahai, engkau yang sering selingkuh
Mata Tuhan selalu menatapmu

Kembalilah kepada-Nya sebelum kau pulang,
Sebelum hari hamba-hamba menjumpai kerja-kerja kemarin

Related Posts

Populer