Perempuan Awal Islam

Share on facebook
Share on twitter
Share on google
Share on linkedin

Status Perempuan

Sekarang kita fokuskan perhatian pada persoalan status perempuan. Sebagaimana sudah dikemukakan, masyarakat Arab pada dasarnya adalah masyarakat suku. Perempuan dalam masyarakat seperti ini sesungguhnya mempunyai status yang cukup baik.  Meskipun begitu bukan berarti mereka mempunyai derajat yang sama dengan laki-laki.  Sistem patriarkhis telah lama ada dalam masyarakat ini.  Umar bin Khattab pernah mengemukakan bahwa perempuan sebelum kelahiran Islam tidak memiliki hak otonom atas tubuh mereka sendiri.  Mereka baru mempunyai kemandirian sesudah Islam datang3.  Pernyataan Umar ini boleh jadi merupakan gambaran atas praktik yang dominan.  Sebab fakta lain juga menunjukkan adanya kemandirian perempuan. Laela Ahmad menginformasikan bahwa:

“Pada abad keenam Masehi, boleh dikata Arabia adalah sebuah pulau di Timur Tengah, kawasan terakhir yang menyisakan sistem perkawinan patrilineal. Tetapi segera ditambahkan bahwa sistem ini sebenarnya bukan sebagai satu-satunya bentuk perkawinan yang sah; sekalipun bahkan di sana hal itu mungkin merupakan jenis perkawinan yang dominan. Fakta-fakta sosiologis menunjukkan bahwa di antara jenis-jenis perkawinan yang dipraktikkan juga adalah perkawinan matrilineal, uksorilokal (sangat menggandrungi perempuan), yang dijumpai di Arabia, termasuk Makkah.  Sekitar masa kelahiran Nabi Muhammad SAW (kira-kira pada 570 M), perempuan tetap tinggal bersama sukunya, di mana laki-laki bisa mengunjungi atau tingal bersamanya, dan anak-anak yang dilahirkan menjadi milik suku ibunya, serta perkawinan bersifat poliandri dan poligami”4.

Keragaman berbagai praktik perkawinan di Arabia para-Islam dan adanya adat istiadat matrilineal, termasuk bergabungnya anak-anak bersama suku sang ibu, tidak mesti berarti bahwa perempuan mempunyai kekuasaan lebih besar dalam masyarakat atau akses lebih besar pada sumber-sumber ekonomi.  Dari sumber Islam didapatkan informasi struktur patriarkhis.  Satu ayat dalam al-Qur’ân menunjukkan hal tersebut: “Kaum laki-laki adalah ‘qawwam’ (pemimpin) atas kaum perempuan karena Tuhan telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan) dan karena laki-laki menafkahi sebagian hartanya (untuk perempuan)” (Q.S. an-Nisâ’ [4]:34).

Pada ayat yang lain al-Qur’ân mengakui kenyataan adanya otoritas laki-laki dalam perkawinan atau struktur keluarga: “Dan perempuan mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’rûf (baik).  Akan tetapi kaum laki-laki mempunyai satu tingkat lebih tinggi dari kaum perempuan”. (Q.S. Al-Baqarah [2]:228).

Pernyataan beberapa ayat al-Qur’ân tersebut menunjukkan bahwa realitas sosial Arabia ketika itu lebih memberikan peran otoritatif kepada kaum laki-laki. Tetapi ini tidaklah berarti bahwa tidak ada perempuan yang memiliki otoritas atas laki-laki.  Isteri pertama Nabi Muhammad SAW, Khadijah, sebelum perkawinannya dengan Nabi adalah perempuan yang mandiri dan memiliki bisnis yang dikelolanya sendiri. Sejumlah perempuan lain juga memainkan peran sosial dan ekonomi yang cukup signifikan.  Tetapi sekali lagi,  ini bukan situasi yang dominan.

Laela Ahmad mengungkapkan kenyataan yang beragam tersebut. Menurutnya, bukti tentang praktik-praktik perkawinan di Arabia pra-Islam cukup jarang dan implikasi-implikasinya pun tidak pasti. Hanya saja, bukti tentang matrilini dan adat-istiadat seksual yang selaras dengan matrilini, termasuk poliandri, tidak bisa diabaikan. Hal ini kemudian diambil kesimpulan secara general oleh sebagian  sarjana, antara lain  Robertson Smith atau Montgomery Watt untuk berpandangan bahwa masyarakat itu bercorak matriarkal dan bahwa Islam, karenanya, menggantikan tatanan matriarkal dengan tatanan patriarkal5.

Pandangan Robertson Smith atau Watt di atas adalah sesuatu yang mungkin sebagaimana juga terjadi dalam berbagai masyarakat. Keberagaman tradisi adalah niscaya. Di wilayah manapun selalu ada realitas yang lain. Tetapi Maxim Rodinson, sambil mengkritik pandangan keduanya sebagai tidak benar, mengatakan bahwa “hal itu hanya ada pada daerah-daerah tertentu, seperti Madinah”6. Ini menunjukkan bahwa struktur demikian tidaklah sesuatu yang dominan. Sistem ini telah ada bersama-sama dengan beberapa kebiasaan poliandri dan adanya pengakuan akan peran perempuan jauh sebelum Islam hadir, sisa peradaban lama. Sementara sumber-sumber Islam menunjukkan bahwa ketika Nabi Muhammad SAW lahir, struktur keluarga yang berlaku pada umumnya adalah bersifat patriarkhal. Dari sini kita dapat mengatakan bahwa Islam yang dibawa Nabi Muhammad bukanlah agama yang memperkenalkan sistem patriarkhal.

Related Posts

Populer