Pakaian/Busana Taqwa

Share on facebook
Share on twitter
Share on google
Share on linkedin

Pulang dari salat Idul Fitri, kemarin, 08-08-2013, dalam silaturrahim di rumah, salah seorang tamu bertanya mengenai makna “Libas al-Taqwa”, sebagaimana disebutkan dalam al-Qur’an : “Wa Libas al-Taqwa Dzalika Khair”.(Q.S. al-A’raf [7]:27).

Aku berusaha menjawab (sambil jalan menuju rak buku, mengambil kitab kuning): Secara literal “Libas” berarti pakaian (busana). Ia adalah kain yang digunakan untuk menutup tubuh, sebagian atau seluruhnya. Jadi “Libas al-Taqwa” berarti : pakaian/busana Taqwa. Maka makna “wa Libas al-Taqwa Dzalika Khair”, ialah “dan pakaian/busana taqwa itu lebih baik”.

Bagaimana ia digambarkan. Dalam pergaulan kita, orang Indonesia, sehari-hari, pakaian taqwa tersebut kemudian digambarkan/diviisualisasikan sebagai “baju koko”. Ono-ono wae.

Apakah makna sejatinya: “pakaian taqwa”? Penyebutan “pakaian” yang dikaitkan dengan kata “taqwa” (kesalehan) menunjukkan arti simbolik (metafora/majaz). Pada umumnya ia dimaksudkan sebagai moralitas atau kehormatan.

Para mufassir memberikan tafsiran yang berbeda-beda. Imam Abu al-Hasan al-Mawardi, dalam “Adab al-Dunya wa al-Din”, mencatat ada 6 tafsir:

  1. Iman. Ini pendapat Imam Qatadah bin Di’amah al-Sadusi dan Imam Al-Suddi (ahli tafsir dari generasi Tabi’in/sesudah sahabat Nabi).
  2. Amal Saleh, kerja yang baik. Ini pendapat Sahabat Nabi Ibnu Abbas
  3. Jalan hidup yang baik. Ini pendapat Sahabat Nabi : Utsman bin Affan
  4. Merasa kawatir akan siksa Allah. Ini pendapat Urwah bin Zubair. (ahli tafsir generasi Tabi’in)
  5. Mempunyai rasa malu. Ini pendapat Ma’bad bin al-Juhani. (pendiri aliran Kalam Qadariyah).
  6. Menutup aurat. Ini pendapat Abd al-Rahman bin Zaid.(ahli tafsir generasi tabi’I tabi’in,w.182 H).

(Baca : Imam Al-Mawardi, Adab al-Dunya wa al-Din, al-Maktabah al-Tsaqafiy ah, Beirut,Cet. III, hlm.339). 

Maka, kecuali tafsir Abd al-Rahman bin Zaid, para ahli tafsir generasi awal Islam, memaknai “Libas al-Taqwa” sebagai “moralitas atau kehormatan seseorang bukan ditentukan oleh pakaian dalam bentuk/konsep fisik atau material, melainkan konsep mental dan spiritual. Dan inilah moralitas yang lebih baik. Sampai di sini, aku ingat kata-kata mutiara Arab : “Lais al-‘Id li Man Labisa al-Jadid, Wa Innama al-‘Id li Man Tha’atuhu (Taqwahu) Tazid” (Hari raya bukanlah bagi orang yang berpakaian baru, tetapi bagi orang yang kesalehan/ketaqwaannya, semakin meningkat).

Related Posts

Populer