Nasehat Para Bijakbestari

Share on facebook
Share on twitter
Share on google
Share on linkedin

Para ulama antara lain Imam Al-Ghazâlî memberi saran yang bijak kepada kita agar kita bicara kepada masyarakat sesuai dengan tingkat pengetahuan mereka. Ia mengutip ucapan Nabi Muhammad saw:

أمرنا معاشر الأنبياء أن نحدث الناس على قدر عقولهم

“Kami, para Nabi, diperintahkan untuk berkata-kata kepada masyarakat menurut kemampuan akal pikiran mereka”.
Imam Ali bin Abi Thalib juga mengatakan :

حدثوا الناس بما يعرفون أتريدون ان يكذب الله ورسوله

“Berbicaralah kepada masyarakat dengan apa yang mereka mengerti. Apakah kalian ingin mendustai Allah dan Rasul-Nya?”

Ini tentu tidaklah berarti bahwa kebenaran dan kebaikan harus disembunyikan atau tidak boleh disampaikan kepada masyarakat. Nabi melarang kita menyembunyikan ilmu pengetahuan (Kitman al-Ilm). Para ulama menyampaikan pandangan ini berdasarkan pemahaman atas ayat Al-Qur’an yang mengatakan: “Wa La Tu’tuu al-Sufaha Amwalakum allati Ja’ala Allah Lakum Qiyaman” (Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan. Artinya kita dilarang memberikan harta milik mereka manakala mereka masih dalam keadaan belum mengerti. Orang-orang yang belum mengerti itu antara lain, anak yatim dan orang dewasa yang tidak dapat mengatur harta bendanya sendiri.

Ada pula pepatah yang mengatakan :

لِكُلِّ مِقَامٍ مَقَالٌ ، وَلَيْسَ كُلُّ مَا يُعْلَمُ يُقَالُ

“Pada setiap ruang ada bahasanya (kata-kata) sendiri, dan tidak setiap yang diketahui (harus) disampaikan”.
Oleh karena itu kita disarankan untuk mengetahaui dan memperhatikan siapa orang/mereka yang kita ajak bicara (audiens), dengan cara apa dan bahasa yang seperti apa berbcara dengannya/mereka. “Fa Hifzh al-Ilm min Man Yufsiduhu wa Yadhurruhu Awla” (menjaga ilmu dari orang-orang yang akan merusak dan menggunakannya secara salah adalah lebih baik.

Ibnu Mas’ud, seorang sahabat Nabi mengatakan:

مَا أَنْتَ بِمُحَدِّثٍ قَوْمًا حَدِيثًا لا تَبْلُغُهُ عُقُولُهُمْ ؛ إِلا كَانَ لِبَعْضِهِمْ فِتْنَةٌ ” . أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ فِي خُطْبَةِ الْكِتَابِ

“tidaklah kamu berkata-kata kepada masyarakat dengan ucapan-ucapan yang tidak sampai pada akal pikiran mereka, kecuali akan menimbulkan ‘fitnah’, (kesalahpahaman, atau kegoncangan) di antara mereka”.

Imam Abu Hamid al-Ghazali dalam syair yang dikutipnya dari Imam al-Syafi’i menyampaikan:

فَمَنْ مَنَحَ الْجُهَّالَ عِلْماً اَضَاعَهُ وَمَنْ مَنَعَ الْمُسْتَوْجِبِيْنَ فَقَدْ ظَلَمَ

Membagi pengetahuan kepada mereka yang tak paham,
adalah kesia-siaan belaka
Tetapi menolak membagikannya
kepada yang paham adalah kezaliman.
(Ihyâ’, I/57).

Cirebon, 22-07-2014

Related Posts

Populer