Menulis Buku Sebagai Maskawin

Share on facebook
Share on twitter
Share on google
Share on linkedin
Menulis Buku Sebagai Maskawin

Ala al-Din al-Kasani, pengarang kitab “Badai’ al-Shanai’, sebuah buku fiqh mazhab Hanafi adalah ulama besar bergelar “Malik al-Ulama” (raja para ulama). Ia adalah salah seorang santri Muhammad bin Ahmad al-Samarkand, seorang ahli fiqh besar pada zamannya. Kasani mengaji hampir semua kitab-kitab gurunya itu.

Syeikh Ahmad al-Samarkandi (dari Samarkan), sang guru, merasa senang melihat ketekunan santrinya itu. Syeikh mempunyai anak perempuan bernama Fatimah. Sejak kecil ia mengaji pada ayahnya sampai menguasi banyak ilmu. Ia hafal kitab ayahnya : “al-Tuhfah”, dikenal sebagai ulama perempuan (‘allamah, faqihah). Bila sang ayah dimintai fatwa oleh masyarakatnya, ia meminta putrinya untuk menjawab, sementara dia sendiri ikut mendengarkannya.

Fatimah, di samping cerdas adalah perempuan dengan keelokan rupa yang menawan banyak orang. Bahkan raja-raja di wilayah Turki dan Arabia silih berganti datang menemui ayahnya untuk meminang putrinya bagi para putra mahkota mereka. Akan tetapi tidak satupun yang diterima. Syeikh, kemudian menawarkan putrinya kepada ala al-Din, santrinya yang cerdas dan rajin ibadah itu. Meski Ala al-Din merasa diri tak pantas menikahi putri guru yang sangat dihormatinya itu. Dia juga santri yang miskin. Namun permintaan guru tidak etis jika ditolak.

Akan tetapi Syeikh hanya mau menikahkan putrinya, jika Ala al-Din telah selesai menulis “syarh” (komentar) atas kitab “al-Tuhfah al-Fuqaha”, karyanya. Ala al-Din menyanggupinya, bukan hanya karena diminta gurunya, lebih dari segalanya adalah kecantikan dan kecerdasan Fatimah. Maka ia segera menulisnya. Dalam waktu yang tidak terlalu lama ia dapat menyelesaikan tulisan itu yang diberinya judul : “Badai’ al-Shanai’ fi Tartib al-Syarai’”, terdiri dari 7 jilid, masing-masing 450 halaman. Dan kitab inilah yang kemudian menjadi “Mahar” atau “Mas Kawin” si santri miskin itu untuk menyunting putri cantik-cerdas gurunya itu. Para ulama sezamannya mengatakan : “si Ala al-Din” santri yang sangat beruntung, mendapat dua permata nan elok : “Fatimah dan Syarh kitab Tuhfah”.

Dalam pendahuluan kitabnya, Al-Kasani, mengatakan : “Kitab ini berisi penjelasan mengenai hukum-hukum Islam (Ilm al-Syarai’ wa al-Ahkam). Sesungguhnya telah banyak buku ditulis mengenainya oleh para guru kita.Semuanya baik dan bermanfaat. Sayangnya mereka belum banyak yang menyusunnya dengan sistematika yang rapi, kecuali guruku, pewaris al-Sunnah : Syeikh Muhammad bin Ahmad bin Abi Ahmad, Rais al-Sunnah (pemimpin al-Sunnah). Aku mengikuti jejaknya dan aku memperoleh petunjuknya”.

Nama lengkap al-Kasani adalah Al-Imam ‘Ala al-Din Abi Bakr bin Mas’ud Al-Kasani (penduduk Kasan, Turkistan) al-Hanafi (bermazhab Hanafi). Ia meninggal dunia tahun 587 H.

 

Related Posts

Populer