Mengembalikan Kemanusiaan yang Hilang

Share on facebook
Share on twitter
Share on google
Share on linkedin

Tulisan Pengantar untuk buku “Kembali Menjadi Manusia”, 
Karya ; Doni Febriando

Jam berdentang dua kali pada dini hari. Di luar kamar ada gemuruh air dari langit. Lalu rinai. Aku bangun, lalu membuka FB. Ada beberapa teman menulis di inbox. Aku membacanya satu-satu dan menjawab singkat-singkat. Nama terakhir Doni. Dia kabari dirinya telah cukup lama menulis kumpulan peremenungannnya yang siap terbit. Dia merayuku untuk membuat tulisan pengantar. Aku bilang : “Rapopo”. Baik. Silakan kirimkan naskahnya via email. Secepat kilat dia mengirimkannya. Aku membiarkannya saja. Esoknya email itu aku buka : “Kembali Menjadi Manusia”, judul buku yang ditulisnya. Lalu aku baca lembar demi lembar.

Aku membaca suasana hati dan pikiran Doni. Dia anak muda yang telah lama menyimpan gelisah, tetapi juga gairah yang meluap-luap. Saban hari, dia seperti mengikuti perkembangan kehidupan beragama masyarakat muslim di negerinya hari demi hari di berbagai tempat, dan dia resah. Realitas social masyarakat tengah memperlihatkan wajah-wajah paradox. Sudah berabad-abad Islam hadir di bumi ini dan kini pengikutnya telah beratus juta. Masjid atau Mushalla, tempat Tuhan Allah disembah dan dimliakan ada di mana-mana, di setiap sudut bumi Nusantara. Madrasah dan pondok pesantren, tempat para santri mengaji kitab suci dan cara-cara membaca serta mengkajinya, juga bertebaran di seantero Nusantara. Tetapi Doni gelisah. Mengapa para pemeluknya tak lagi ramah, mengapa orang-orang beriman kepada Tuhan dan Nabi yang sama saling merendahkan dan membunuh karakter, bahkan untuk hal-hal yang amat sepele. Sekte-sekte (mazhab-mazhab) Islam dan organisasi-organisasi Islam yang tumbuh dan berkembang dalam aneka kecenderungan pikiran saling mengklaim kebenarannya sendiri sambil menyalahkan atau bahkan mensesatkan lainnya. Dan seterusnya dan seterusnya.

Doni mengingat-ingat dan merenung-renung masa lalu Islam di Nusantara. Dia menyebut para Wali. Mereka adalah orang-orang suci yang membuat bumi yang selama 8 abad lamanya menganut agama Hindu atau lainnya berubah menjadi para pengikut agama Nabi Muhammad Saw. Mereka mengajak pribumi dengan seluruh kelembutan, kasih dan keluhuran budi, bukan dengan marah-marah dan mengusung pedang dan symbol-simbol. Doni juga menyebut Gus Dur sebagai Wali. Doni menyimpan empati dan cinta mendalam terhadap Gus Dur. Ketokohan Gus Dur tak tertandingi. Meski beliau sering direndahkan, dicaci-maki dan “dihancurkan”, tetapi baginya Gus Dur adalah pejuang hak-hak kemanusiaan yang konsisten sampai akhir hayatnya. “Sejarah akan bicara sendiri tentang kebesaran dan kewalian Gus Dur”.

Akhirnya, Doni mengajak kaum muslim hari ini untuk kembali mencari dan menemukan jejak keteladanan Nabi yang Mulia : Muhammad Saw. Dia memberikan banyak sekali contoh cara hidup dan berkehidupan beliau yang seluruhnya dibalut dengan budi luhur, akhlaq karimah dan keteladanan yang utuh (Syamail Muhammadiyyah). Kepada cara hidup utusan Allah yang teragung ini seharusnya kaum muslimin kembali dan mengikutinya dengan seluruh hati dan pikirannya. “Sungguh, pada dan di dalam pribadi utusan Allah ini contoh keteladanan yang indah, bagi orang-orang yang mengharap perjumpaan intim dengan Allah dan kehidupan akhir yang damai sentosa abadi”.

Doni menulis kegelisahan atas realitas muslim dan cintanya kepada Islam secara singkat-singkat, lugas, ringan dan memang sangat sederhana. “Rapopo”. Hari ini mungkin model penulisan seperti ini lah yang digemari masyarakat. Kegalauan hidup sehari-hari membuat mereka butuh pada cerita-cerita yang ringan, singkat dan menghibur. Dan Doni menambahkannya yang diinginkannya sambil menncari arah menuju jalan cahaya.

Semoga buku ini bermanfaat bagi masyarakat luas terutama anak-anak muda. Semoga pula ia menjadi jalan setapak bagi penulisnya untuk melanjutkan permenungan-permenungannya yang lebih mendalam atas realitas social muslim sambil menyuguhkan Islam yang membebaskan dan mencerahkan. Ia adalah Islam yang hadir untuk manusia dalam rangka kemanusiaan. Selamat.

Husein Muhammad
Cirebon, 12 Mei 2014

Related Posts

Populer