Mengapa dan Untuk Apa

Share on facebook
Share on twitter
Share on google
Share on linkedin
memahami hukum allah

Masih bersama para ulama perempuan dalam Workshop Mubadalah. Aku menyampaikan lagi; pada setiap pernyataan hukum hendaklah kita menanyakan “mengapa hukumnya demikian dan untuk apa?”

Imam al-Amidi mengatakan :

لا يجوز القول بوجود حكم لا لعلة اذ هو خلاف اجماع الفقهاء على ان الحكم لا يخلو من علة” (الاحكام فى اصول الاحكام, 3/380).
وقال ايضا : أن أئمة الفقه مجمعة على ان أحكام الله لا تخلو من حكمة ومقصود” (الاحكام فى اصول الاحكام, 3/411).

“Tidak boleh ada hukum tanpa alasan rasional. Karena bertentangan dengan ijma/kesepakatan ulama”.

“Para ulama juga sepakat bahwa setiap hukum Allah tidak lepas dari hikmah dan tujuan”.

Lalu aku menyampaikan cerita ini.

Suatu hari ayah mengajak anak perempuannya jalan-jalan naik mobil. Mereka berangkat. Bila kemudian tiba di lampu merah ayah menghentikan mobilnya. Si anak bertanya : mengapa berhenti?.
Ayah : karena lampu sudah menyala merah
Anak : mengapa kalau lampu merah harus berhenti?
Ayah : kalau langsung ditangkap polisi.
Anak : mengapa polisi menangkap ?
Ayah : karena melanggar peraturan.
Anak : ya, tapi mengapa?
Ayah : sebab kalau diteruskan akan membahayakan, bisa tabrakan.
Anak : mengapa?
Ayah : itu sudah jadi hukum alam
Ayah dengan sabar menjelaskan lagi: kita tidak boleh menyakiti orang lain. Apakah kamu mau disakiti?.
Anak : tentu tidak, ayah.
Ayah : nah, begitu pula orang lain. Mereka tak ingin sakit/disakiti. Nabi mengatakan :

احب للناس ما تحب لنفسك

“Cintailah orang lain, sebagaimana engkau ingin dicintai”.

Anak itu masih belum puas. Dia bertanya lagi : mengapa demikian?
Ayah : ya karena manusia itu sama.

Lalu aku menambahkan :

عامل الناس بما تحب ان يعاملوك

“Perlakukan orang lain sebagaimana engkau ingin diperlakukan”.

لا تعامل الناس بما لا تحب ان يعاملوك

“Jangan perlakukan orang lain dengan cara yang engkau sendiri tidak ingin diperlakukan”.

(Diambil dari buku : “Maqashid al-Syari’ah Dalil li al-Mubtadi”, tulisan : Jasir Audah).

Dari cara berpikir demikian akan dapat dibangun prinsip hukum “Mubadalah”, Kesalingan.
08.09.18
HM

Related Posts

Populer