Menemui Syams Tabrizi

0
4252
Foto: http://en.wikipedia.org/wiki/Shams_Tabrizi
Foto: http://en.wikipedia.org/wiki/Shams_Tabrizi

Keluar dari lingkungan “Green Mausoleum”, kuburan Maulana Rumi di bawah payung menara biru yang menjulang ke langit, temanku, Hari Pebriantok, sibuk menerima telpon. Aku merasa dia ditelpon Yanuar Agung yang mungkin mengabarkan sudah sampai di daerah sekitar. “Agung?”, kataku. “Ya, dia sudah dating dan sekarang menunggu kita di Syams Tabrizi”, jawab Hari. Matahari sudah bergerak ke Barat dan mengurangi ketajaman panasnya. Udara berubah menjadi sedikit teduh. Bila nanti mega langit berubah warna menjadi kuning bercampur merah saga, udara akan berhembus lembut. Aku menyeberang jalan dan mengajak Hari mencari kafe dan duduk-duduk sebentar sambil minum teh Turki yang sedap dan menagih. Dia mengusulkan untuk minum di tempat dekat Syams Tabrizi. “Kita minum di sana saja. Di sana ada kafe”, katanya, sambil menunjuk arah. Kami terus berjalan kaki menuju ke sana. Jaraknya tidak jauh, kira-kira 300-500 meter saja. Bila kakiku merasa lelah, aku duduk sejenak dan membiarkan Hari berjalan sendiri, meninggalkan aku. Tetapi manakala melihat aku duduk, dia menghentikan langkahnya dan menjemput aku.

Tak lama kami sampai, tetapi sejenak aku tak melihat Agung yang konon sudah menunggu di sana. Mataku menatap halaman rerumputan yang luas dan bersih. Sebuah taman luas dengan pohon-pohon tinggu yang rindang dan tenang. Hari menunjuk sebuah camii, dan aku membaca di depan pintu masjid itu : “Syams Tabrizi”. Aku tercengan-cengang, seperti orang yang tak percaya. Ya, aku sama sekali tak mengira tempat istirahat guru besar Maulana ini sangat bersahaja, sederhana dan sepi, sepi sekali. Tak banyak orang hadir di sana. Aku bertanya-tanya sendiri: Bagaimana mungkin sufi besar yang penuh misteri dan merubah jalan hidup Maulana Rumi ini begitu sepi. Dan tak banyak peziarah. Mengapa pengaruhnya tak sebesar sang murid?. Mungkinkah karena dia orang asing?. Pikiran itu melayang-layang di otakku sambil melangkah masuk ke dalam. Agung tiba-tiba muncul. Tangannya membawa plastic berisi barang. Setelah bersalaman kami bertiga : Aku, Agung dan hari masuk ke dalam camii Syams Tabrizi. Tak ada orang di sana dan mataku langsung menumbuk kuburan Syams Tabrizi yang dibungkus kain hijau. Di belakangnya ada dua papan yang betuliskan : Ini Tempat Istirahat Syams Tabrizi. Seperti di hadapan Maulana, aku menyampaikan salam, dan mengajak dua temanku untuk membaca Tahlil singkat dan berdo’a kepada Allah untuk kenyamanan istirah “matahari dari Tabriz” ini. Sesudah itu aku shalat Asar.

Aku mengingat Syams Tabrizi sebagai seorang Darwish besar. Siapakah Darwish?. Sebagian orang mempersepi Darwish sebagai pengelana miskin, mengenakan pakaian lapuk dan rambutnya yang tak terurus, seorang zahid. Hidupnya dihabiskan untuk beribadah di masjid-masjid dan senang menyepi di Zawiyah-zawiyah (pojok-pojok, tempat kontempelasi). Kadang-kadang ia datang ke kafe-kafe atau nongkrong di warung-warung minum dan berbagi cerita-cerita aneh, tak masuk akal tetapi kadang jenaka, kepada orang-orang yang ditemuinya. “Ia adalah orang asing” (al-gharib). Para sufi menyebut Darwish sebagai :

الدرويش من يوزع الاسرار الخفية وفى كل لحظة يمن علينا بالملكوت ليس الدويش من يستعطى خبزا الدرويش من يعطى الحياة

Darwish adalah orang yang menyebarkan rahasia-rahasia ilmu Ketuhanan. Pada setiap saat, ia membagi kepada manusia gagasan-gagasan tentang Kerajaan Langit. Darwish bukanlah orang yang meminta roti. Darwish adalah orang yang memberi kehidupan”.

Manakala kemudian kami keluar dari masjid sang Darwish itu, Yanuar Agung, membuka bungkusan plastic. Dan, “Oh, Wouw”, aku berteriak girang. Dia menyerahkan 6 jilid buku ukuran mungil : “Matsnawi”. Aku bertanya : “Dapat dari mana?, berapa harganya?. Agung bilang “ini untuk Kiyai, hadiah. Semoga aku mendapat berkah”. Tentu saja aku menyampaikan syukur dan sejuta terima kasih kepadanya atas hadiah besar dan berharga ini. Semoga Allah membalas kebaikan hatinya.

“Apa yang kau ketahui tentang Syams Tabrizi, Husein?”. Oh. Aku mencoba menoleh mencari-cari suara itu. Tidak ada siapa-siapa. Aku merenung dan mencoba menjawab. Tak banyak yang aku ketahui sang Darwisy ini. Tetapi ada banyak cerita mengenai dia. Dia seorang pengembara dari Tabriz, nama sebuah kota di bagian Iran. Konon ada yang bilang ; “dia seorang wali terbesar pada zamannya” (Kana Farid Zamanihi fi al-Wilayah wa Kasyf al-Qalb). Akan tetapi ia merasa tak pernah puas atas pengetahuannya sendiri. Maka dia mengelana ke berbagai penjuru, mencari kesempurnaan. Di setiap tempat yang ia kunjungi, selalu ziarah ke kuburan orang-orang besar, menyampaikan salam, lalu bertemu para wali yang masih hidup di tempat itu. Karena pengembaraannya yang sering itu, orang menyebutnya “Syams al-Thair” (Syamsuddin sang burung).

Ia sengaja datang ke Konya, ibu kota Anatolia, mencari seseorang yang selalu hadir dalam mimpi-mimpinya. Di tempat ini ia sering duduk di warung-warung dan kafe-kafe, sambil bercerita hal-hal aneh. Ketika tiba di Konya, ia menyewa kamar murah pada seorang pedagang gula di daerah itu. Di dalamnya hanya ada selembar tikar yang sudah lapuk dan sebuah kendi, tempat minum, yang sudah retak. Akan tetapi setiap keluar kamar, ia selalu meletakkan beberapa koin uang di depan kamarnya dan membawa kunci yang diikat pada saputangan, lalu diletakkan di belakang punggungnya, untuk menunjukkan bahwa ia seorang pedagang besar.

Pikiran-pikirannya sering membuat orang marah, karena tidak sama dengan pikiran umum. Kata-katanya lebih sering menggunakan bahasa metaforis yang tidak mudah dipahami orang pada umumnya, kecuali mereka yang terpelajar dan telah belajar sastra. Ia seperti Aththar, Fariduddin Aththar, penulis buku “Mantiq al-Thair” (Percakapan Burung) yang sangat terkenal itu.
Suatu hari ia mengatakan kepada teman-temannya, para ahli fiqh :

ان الشريعة كالشمعة, توفر لنا نورا. لكن يجب الا ننسى أن الشمعة تساعدنا على الانتقال من مكان الى مكان آخر فى الظلام. وإذا نسينا إلى أين نحن ذاهبون وركزنا على الشمعة, فما النفع من ذلك؟

“Syari’ah itu bagaikan lilin yang menyala. Ia memberi kita cahaya. Akan tetapi kita tidak boleh lupa bahwa lilin harus kita bawa untuk menerangi tempat lain yang gelap. Bila kita lupa ke mana kita akan pergi dan kita hanya berhenti memandangi lilin itu, maka apa gunanya?.
Pada saat lain ia mengatakan :

ان الطريق الى الحقيقة يمر من القلب لا من الرأس. فاجعل قلبك لا عقلك دليلك الرئيسى . واجه تحد. أن معرفتك بنفسك ستقودك الى معرفة الله.

Jalan menuju Kebenaran itu melewati hati, bukan kepala. Maka jadikan hatimu,bukan kepalamu, petunjukmu yang utama. Hadapkanlah ia, kau akan sampai. Hatimu itu ada dalam jiwamu. Pengetahuanmu tentang jiwamu akan mengantarkanmu mengetahui Tuhan, Sang Kebenaran itu.

Suatu saat ia bicara di hadapan publik :

يوجد نوع واحد من القذارة لا يمكن تطهيرها بالماء النقي وهو لوث الكراهية والتعصب التى تلوث الروح
الحب وحده هو الذى يطهر قلوبنا .

Hanya ada satu jenis kotoran yang sulit dibersihkan dengan air bersih. Ialah kebencian dan fanatisme buta yang telah melekat dalam ruh. Dan Cintalah satu-satunya yang dapat membersihkan hati kita”.

Dan kata-katanya yang sangat mengesankan aku adalah ini:

ولم يكن الموت هو الذى يقلقنى . لاننى لم اكن اعتبره نهاية . بل ما كان يقلقنى هو ان أموت من دون ان أخلّف تراثا.
أريد ان انقل المعارف التى توصلت اليها الى شخص آخر . سوآء كان أستاذا ام تلميذا.

Bukanlah kematian yang menggelisahkan jiwaku. Ia, bagiku, bukanlah pemberhentian terakhir. Aku gelisah manakala aku mati tanpa meninggalkan warisan pengetahuan. Aku ingin mengalihkan pengetahuan yang telah aku peroleh kepada orang lain; guru maupun muridku. (Syams al-Tabrizi).

“Kita cari tempat minum the, sambil menikmati sore yang teduh. Kita menuju bukit”, kata Agung, membuyarkan pikiranku yang melayang-layang tentang sang Darwisy misterius itu. Kami bertiga melangkahkan kaki menuju tempat yang ditunjuk Agung. Tak jauh. Dari bawah tampak kursi-sudah banyak orang di sana. Kami mencari kursi kosong. Bukit ini membentang luas, terletak di lingkungan kesultanan Seljuk. Kami memesan teh, dan aku membuka “Matsnawi i Ma’nawi”, karya masterpiece Maulana Rumi, hadiah dari sahabat yang tengah menempuh S3 itu. “Sesudah ini, kita menuju tempat pertemuan pertama Syams Tabrizi dan Maulana Rumi”, kata Agung lagi.

Cirebon, 22-September 2014