Konflik dalam Islam

Share on facebook
Share on twitter
Share on google
Share on linkedin
konflik

Konflik, perseteruan, fitnah, saling menghasut, bahkan perang antar kaum muslimin masih terus terjadi di banyak tempat. Lebih dari sekedar konflik, malahan perang bersenjata juga masih berlangsung, antara lain di Yaman. Sebelumnya di Siria dan lain-lain.

Hal yang sangat disesalkan adalah mereka yang berseteru itu menggunakan agama bagi pembenaran atas tindakannya. Konon agama menjadi alat paling efektif untuk menarik emosi masyarakat untuk mendukung maupun menolak suatu gerakan. Saya sungguh tidak pernah mengerti jika agama, apapun agama itu, membenarkan fitnah, kebohongan, caci maki, buruk sangka, menganiaya apalagi pembunuhan.

Agama hadir untuk mempersaudarakan, mendamaikan dan menjalin hubungan kasih sayang. Dan perang dalam Islam dibenarkan hanya dalam rangka membela/mempertahankan diri manakala diserang. Islam tidak pernah memulai atau menginisiasi perang. “Jangan pernah berharap bertemu musuh”. “Jangan saling menghina, menganiaya”.

Maka adalah menarik sekali analisis Muhammad Abduh dalam diskusinya dengan Farah Anton. Abduh mengatakan :

لم يسمع فى تاريخ المسلمين بقتال وقع بين السلفيين (الآخذين بعقيدة السلف) والاشاعرة والمعتزلة مع شدة التباين بين عقائدهم. نعم, سمع بحروب تعرف بحروب الخوارج كما وقع من القرامطة وغيرهم. وهذه الحروب لم يكن مثيرها الخلاف فى العقائد وانما اشعلتها الآراء السياسية تشبه ان تكون لاجل العقيدة وهى ما وقع بين دولة ايران والحكومة العثمانية والوهابيين. ولكن يتسنى لباحث بادنى نظر ان يعرف انها كانت حروبا سياسية. أما الحروب الداخلية التى حدثت بعد استقرار الخلافة فى بنى العباس واضعفت الامة وفرقت الكلمة فهى حروب منشأها طمع الحكام وفساد اهوائهم. واكبر داء دخل على المسلمين فى هممهم وعقولهم انما دخل عليهم بسبب استلاء الجهلة على حكومتهم. أقول “الجهلة” واريد اهل الخشونة والغطرسة الذين لم يهذبهم الاسلام ولم يكن لعقائدهم تمكن من قلوبهم. (ابن رشد وفلسفته مع نصوص المناظرة بين محمد عبده وفرح انطون, دار الفاربى, بيروت, لبنان, ط الاولى, 1988, ص 17-218)

”Tidak ada informasi yang pasti bahwa telah terjadi perang antara kaum salafi, Asy’ariah dan Mu’tazilah, meski di antara mereka terdapat perbedaan teologis yang tajam. Memang benar kita memeroleh informasi tentang perang yang dikenal dengan “Hurub al Khawarij”, (pemberontakan/perang-perang khawarij), seperti juga peristiwa gerakan ‘Qaramithah” (Karamit) dan lain-lain. Akan tetapi perang-perang seperti ini sejatinya tidak dipicu oleh perbedaan-perbedaan teologis, melainkan dikobarkan oleh kepentingan-kepentingan politik kekuasaan dalam rangka penguasaan atas rakyat. Perang antar kaum muslimin juga terjadi dalam beberapa tahun terakhir ini yang seakan-akan (tampaknya) berlatarbelakang teologis. Misalnya perang antara Iran dan dinasti Otoman dan kaum Wahabi. Tetapi peneliti yang serius akan mudah menemukan bahwa semua perang tersebut adalah perebutan kekuasaan politik.

Ini berbeda dengan konflik dan kekerasan yang terjadi dalam internal dinasti Abbasiah. Kekerasan, pembunuhan dan sejenisnya yang kemudian melumpuhkan umat Islam itu lebih dilatarbelakangi oleh ambisi para oknum penguasa dan karena hasrat-hasrat rendah para pejabat pemerintahan.

Akan tetapi penyakit terbesar yang merasuk dalam tubuh, akal dan semangat kaum muslimin adalah masuknya “orang-orang bodoh” dalam pemerintahan. “Al-Jahalah”, (orang-orang bodoh), adalah mereka yang berhati kasar dan sangat arogan. Mereka tidak memahami Islam dengan benar dan keimanan mereka semu dan tak mendalam. (Farah Anton, Ibn Rusyd wa Filsafatuhu, Dar al-Farabi, Beirut, cet. I, 1988, h. 217-218).

Begitulah pandangan Muhammad Abduh. Adakah pandangan lain?.

Cirebon 29.12.18
HM

Related Posts

Populer