Ketika Nabi Berhari Raya Idul Fitri

Share on facebook
Share on twitter
Share on google
Share on linkedin

Id al-Fitri, secara literal bermakna kembali ke fitrah. Fitrah bermakna keasalan ciptaan. Dalam kamus disebut :”al-khilqah allati yakunu ‘alaiha kullu mawjud awwal khalqih”. Dan keawalan atau keasalan ciptaan adalah “bersih”, tanpa cacat. Al-Thabi’ah al-Salimah lam tusyabb bi ‘aib. Hari usai puasa dalam bulan ramadan disebut “Id al-Fitri”. Ia dikonsepkan sebagai kembalinya manusia kepada keasliannya, sebuah kehadiran ke bumi tanpa dosa. Orang yang berpuasa dianggap sebagai orang yang telah berjuang lahir batin untuk membersihkan diri dari dosa dan lalai, dan Tuhan memberi mereka ampunan-Nya.

Id al-fitri disebut sebagai : “Id al-farah wa al-Surur La li al-Humum wa al-Ahzan”. (momen besar kembali dalam kegembiraan dan keceriaan, bukan kedukaan dan bersedih hati). Pada hari ini orang-orang muslim yang telah berpuasa dianjurkan bergembira ria. Pagi-pagi mereka boleh makan lagi, sesudah tak dibolehkan. Mereka juga boleh bernyanyi riang.

فعن أنس رضي الله عنه قال : قدم رسول الله صلى الله عليه وسلم المدينة ولهم يومان يلعبون فيهما ، فقال : ” ما هذان اليومان ؟ قالوا : كنا نلعب فيهما في الجاهلية ، فقال رسول اله صلى الله عليه وسلم : إن الله قد أبدلكم بهما خيراً منهما : يوم الأضحى ، ويوم الفطر ” أخرجه أحمد بسند صحيح .

Nabi tiba di Madinah. Penduduknya punya dua hari di mana mereka bermain dalam keceriaan. Nabi bertanya : “Ada apa dengan dua hari ini?. Mereka menjawab : “pada zaman sebelum Islam, kami biasa bergembira-ria pada dua hari itu”. Nabi mengatakan : “Kini Allah mengganti dua hari itu dengan yang lebih indah lagi: yakni Id al Adha dan Id Fitri”.
Aisyah, isteri tercinta Nabi, pada hari raya, menyaksikan orang-orang Habasyah (Etiopia) menari-nari sambil bernyanyi. Akan tetapi Umar bin al-Khattab yang hadir saat itu, menghardik mereka. Nabi yang melihat tindakan Umar itu, lalu menegurnya : “Umar, biarkan saja mereka merasa nyaman (gembira)”.

Dalam hadits lain tentang hal sejenis diceritakan ketika pada hari raya itu orang-orang Habasyah menari-nari gembira, Nabi mengatakan : “Aisyah, isteriku, apa kamu ingin menyaksikan mereka menari-nari?. Aisyah mengangguk. Lalu, kata Aisyah, “Nabi menarikku berdiri di belakang punggunya. Pipiku beradu dengan pipinya, sambil mengatakan : silakan, sampai kau bosan”. Begitu merasa cukup, Nabi mempersilakan kembali ke rumah”.

Bila pagi Idul Fitri yang indah itu tiba, usai salat Subuh Nabi bersiap-siap berangkat menuju masjid. Beliau mengambil baju yang paling bagus (Ajmal tsiyabih), lalu mengenakannya. Sesudah itu beliau mengambil botol minyak wangi dan mengoleskan ke tubuhnya. Seorang sahabat mengatakan : “Amarana Rasulullah fi al-‘Idain an Nalbisa Ajwad ma Najiduhu wa an Natathayyab bi Ajwad ma Najid” (Nabi menyuruh kami pada dua lebaran untuk mengenakan pakaian terbaik yang kami punya dan mengoleskan tubuh dengan minyak yang paling wangi yang kami punya).

Lalu, kata Imam Bukhari, Nabi belum akan keluar menuju masjid, sebelum sarapan. Ini untuk Id Fitri. Sementara dalam Id Adha, beliau sarapan sesudah salat. Seperti hari-harinya, menu sarapan beliau adalah kurma kering dan dalam jumlah ganjil.

فعن انس رضى الله عنه قال:”كان النبى صلى الله عليه وسلم لا يغدو يوم الفطر حتى يأكل تمرات ويأكلهن وتراً”

Usai sarapan beliau berangkat ke masjid, melalui jalur tertentu, sambil mulutnya terus mengucapkan takbir sampai menjelang khutbah. Bila salat Id dan dua khutbah telah ditunaikan beliau pulang ke rumah dengan mengambil jalur lain.

عن جابر رضى الله عنه قال ” كان النبى صلى الله عليه وسلم إذا كان يوم عيد خالف الطريق”

Bila di tengah jalan pulang itu bertemu para sahabatnya, beliau menyampaikan “tahni’ah”, ucapan selamat, berjabatangan sambil mengucapkan : “Taqabbala Allah Minna wa Minka” (Semoga Allah menerima ibadah kita selama Ramadan). Para sahabat beliau membalasnya dengan ucapan yang sama. Ucapan ini mengandung makna persahabatan dan menanamkan rasa kasih sayang antara sesama muslim. Sikap Nabi yang mengambil jalur berbeda antara pergi (berangkat) ke dan pulang dari masjid, dimaksudkan untuk bertemu banyak orang.

Itu adalah bentuk Silaturrahim Nabi. Ini sesungguhnya tidak berlaku special hari raya, tetapi untuk sepanjang hidup Nabi. “Seorang muslim”, kata Nabi “adalah saudara bagi muslim yang lain. Mereka tak dibenarkan saling menzalimi, saling menyudutkan dan saling merendahkan. Taqwa itu di sini. Nabi mengucapkan kata-kata ini tiga kali sambil tangannya diletakkan di dadanya. Seorang muslim sudah dipandang buruk bila dia merendahkan saudaranya. Setiap muslim dilarang mengganggu hak hidup, hak milik pribadi dan martabatnya”. Silaturrahim juga menambah rizki dan memperpanjang umur. Nabi mengatakan : “Siapa yang ingin banyak rizki dan umur panjang yang bermanfaat, maka hendaklah menjaga silaturrahim”.

Menjaga silaturahmi dapat ditempuh melalui banyak cara: dengan mengucapkan salam, memberi hadiah, bicara santun, bersikap ramah, berbuat baik dan membantu kesulitan. Bila berjauhan tempat, maka bisa dilakukan dengan mengirim surat, sms, tweet, fb, menelpon dan lain-lain. Ini cara yang konteks modern. Tetapi yang terbaik adalah berkunjung dan bertemu muka.

Selamat Idul Fitri. Mohon Maaf Lahir Batin.
Husein Muhammad dan Keluarga.

Cirebon, 27 Juli 2014

Related Posts

Populer