Ketika Islam di Andalusia

Share on facebook
Share on twitter
Share on google
Share on linkedin
Masjid Cordoba

Andalusia atau Spanyol adalah salah satu kota terkenal di Eropa. Ia  pernah menjadi salah satu pusat pemerintahan Islam yang besar. Di sanalah Abdurrahman al-Dakhil, (kepada siapa Kiyai Wahid Hasyim mengambil nama untuk anak pertamanya), mengakhiri pelariannya dari kejaran pasukan tentara imperium Abbasiah yang dendam kesumat. Di tempat ini dia mendirikan pemerintahan yang besar bahkan dalam waktu singkat berhasil menandingi kejayaan dan kebesaran Dinasti Abbasiah di Baghdad,  yang menjadi lawan politiknya.

Andalusia selalu saja menarik untuk dikaji kembali. Kehadiran Islam di Andalusia telah mengakhiri kekuasaan politik monoreligi (satu agama) yang dipaksakan penguasa sebelumnya. Islam hadir untuk menawarkan konsep politik multi agama. Pemerintahan Islam di negeri ini menciptakan masyarakat Spanyol yang pluralistik. Para pemeluk agama yang berbeda-beda dapat hidup berdampingan secara damai, aman dan saling bekerjasama membangun negara dan peradaban Spanyol yang besar. Melalui proses akulturasi kebudayaan ini Islam kemudian maju pesat. Andalusia Islam menjadi pusat peradaban dunia yang cemerlang. Di sini ada Al-Hamra, istana indah bercat merah yang terletak di sebuah bukit kecil di kota Granada.  Ada Kordoba yang pernah menjadi pusat pengembangan dan pergulatan intelektual dunia. Ada kota kuno, Seville, yang ekosotik. Disana ada istana Alcazar yang megah, anggun memukau. Di dinding istana ini ada kaligrafi indah bertuliskan  La ghalib ill Allah atau “Tiada pemenang kecuali Allah”.

Dulu, abad pertengahan, di desa-desa di Andalusi hampir semua disiplin ilmu pengetahuan manusia : kedokteran, matematika, filsafat, sastra, musik, arsitektur dan lain-lain, di samping ilmu-ilmu keagamaan, dikaji dengan intensif dan produktif. Dari kota ini lahir sejumlah pemikir Islam berkaliber dunia dan menjadi legendaris. Beberapa di antaranya adalah  Ibnu Hazm, Ibnu Thufail, Ibnu Rusyd, Ibnu Arabi, Ibnu Bajah, Ibnu Malik, dan Al-Syathibi. Ini hanya untuk menyebut beberapa nama saja dari sekian banyak cendikiawan lain, dan hanya untuk disiplin humaniora belaka dari sekian banyak disiplin ilmu pengetahuan, fisika, filsafat dan metafisika. Pikiran-pikiran mereka masih terus dibaca dan dijadikan rujukan sampai hari ini. Kepiawaian ilmiyah mereka diperoleh melalui pergumulan dan dialektika intelektual yang ketat, kritikal, dinamis dan bergetar dengan beragam tradisi dan kebudayaan, terutama kebudayaan Helenistik-Yunani berikut para tokoh-tokoh besarnya, semacam Pytagoras, Socrates, Plato, Aristo, Galenus, dan lain-lain. Nama-nama cendikiawan, filosof, dan sufi muslim di atas dan karya-karya intelektual mereka terus dibicarakan dan dibaca bangsa-bangsa di dunia, terutama Eropa, selama berabad-abad. Melalui para ilmuan, filosof dan bijakbestari muslim di atas, dunia Barat mengenal ilmu pengetahuan, filsafat dan sebagainya.

Cerita di atas dikemukakan sama sekali bukan dalam kerangka appologia, membanggakan masa lampau, melainkan sekedar untuk mengingatkan, menyadarkan dan membangunkan kita dari tidur nyenyak yang panjang, sekaligus membangkitkan gairah masyarakat muslim hari ini guna menemukan kembali prestasi yang hilang sebagai tanggungjawab masa depan peradaban manusia. Kisah itu dalam waktu yang sama memperlihatkan kepada kita betapa masyarakat muslim awal bisa bekerjasama dengan orang lain (the others), menghargai kebudayaan dan peradaban manusia, siapapun dan dari manapun sekaligus mengapresiasi dengan sungguh-sungguh ilmu pengetahuan manusia termasuk “Ulum al-Awa-il” (ilmu-ilmu pengetahuan klasik pra Islam). Semua ilmu pengetahuan yang baik dan bermanfaat bagi manusia dan kemanusiaan adalah anugerah Tuhan. Dia memberikannya kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. “Yu’ti al-Hikmah Man Yasya. Wa Man Yu’ta al-Hikmah Faqad Utiya Khairan Katsira” (Dia menganugerahi pengetahuan yang tinggi dan kebijaksanaan kepada siapa saja Yang dikehendaki-Nya.Dan mereka yang dianugerahinya, mereka memperoleh kebaikan yang berlimpah).

Sayyed Hossein Nasr, cendekiawan muslim kontemporer dari Iran yang terkenal mengatakan : “ Islam menjadi ahli waris khazanah kecendikiaan semua peradaban besar dunia sebelumnya, kecuali peradaban besar Timur Jauh, serta menjadi sebuah tempat berlindung di sebuah jagat ruhani baru”.

Kita tak bisa mengatakan kecuali bahwa Islam memang hadir untuk semua manusia dan menjunjungtinggi semua peradaban dan semua kebudayaan manusia. Islam adalah agama terbuka, inklusif dan (seharusnya) menjadi anugerah keindahan bagi semesta (Rahmatan lil ‘Alamin).

Mohammad Iqbal, filsuf dan sastrawan besar dari Pakistan, menyampaikan pesan kepada manusia muslim:

Wahai, kau yang lahir di bumi seindah mawar
Yang lahir dari rahim pribadi
Jangan ingkar akan pribadimu
Berpeganglah padanya

Jadilah setitik air dan reguk samudra ini
Sang pribadi yang berkilauan itulah sifatmu
Perteguh pribadimu dan kau kekal selamanya
Kau punya wujud, tapi takutkah kau jika tak berwujud?

Di tempat lain, dia bilang :

Bukalah matamu, pandang dunia, bintang dan angkasa
Lihatlah sang mentari terbit di Timur dengan gembira
Lihatlah semesta raya tak berkudung itu bertaburkan cahaya
Kenangkan rindu dendam hari perpisahan

Tapi, jangan engkau lelah melangkah
Pandang perjuangan dalam harap dan cemas
Seisi alam semesta ini adalah milikmu
Kuasailah mereka

Husein Muhammad
Cirebon, dalam rindu-dendam: 02-04-13

Related Posts

Populer