Kegersangan yang Menarik

Share on facebook
Share on twitter
Share on google
Share on linkedin
makkah-

Andaikata tidak ada Ka’bah, Makkah niscaya menjadi kota yang sama sekali tak menarik. Bagaimana tidak? Ia kota yang gersang, kerontang, tak ada rumput, tak ada pepohonan, tak ada sungai dengan air jernih yang mengalir, tak ada bunga, tak ada aneka hiburan, tak ada tarian perempuan, tak ada wajah perempuan, tak ada tempat rekreasi, tak ada artefak, tak ada teater, tak ada lukisan dan tak ada keindahan lainnya.

Sepanjang mata memandang yang terlihat adalah gunung-gunung yang cadas dan padang pasir yang membentang luas. Suhu udara sangat panas. Hujan sesekali saja turun dalam setahun. Suhu panas matahari musim panas bisa mencapai 50 derajat celsius.

Satu hal yang istimewa adalah ia, Makkah, memiliki sumur zam-zam, peninggalan Siti Hajar, ibunda Nabi Ismail bin Ibrahim, As. Ia ada di dalam masjidil haram. Airnya terus menjadi sumber kehidupan masyarakat selama beratus abad dan tak pernah kering meski tiap hari diminum oleh beratus ribu orang.

Hari ini Masjidil Haram di mana Ka’bah dan sumur zam-zam berada sudah dikelilingi oleh hotel-hotel berbintang yang menjulang tinggi nan megah dan super market yang mewah yang menjual aneka kebutuhan para peziarah untuk haji maupun umroh. Aku kini merasakan kehilangan makna sakralitas dan kesyahduan di masjid al-haram dan Makkah. Ia kini ditelan hiruk pikuk suara-suara beratus ribu manusia yang lalu lalang keluar masuk masjid, hotel dan pasar.

Menarik

Meski begitu, namun kota ini sangat menarik. Aku sering mengatakan kepada teman-teman bahwa tidak ada kota kecil di dunia ini yang hidup selama 24 jam. Puluhan ribu orang tiap hari memenuhi jalan-jalan di sekitar dan di dalam masjid.

Sepanjang mata memandang yang terlihat adalah manusia dengan segala tingkat usia dari bayi, balita, anak-anak hingga lansia, laki-laki dan perempuan. Mereka silih berganti datang dari berbagai penjuru dunia dengan berbagai keragamannya dan keberbedaannya : wajah, warna kulit, pakaian, suku, bahasa dan dialeknya, aliran pemikiran, mazhab, kebiasaan, partai politik, pakaian yang dikenakannya serta perbedaan yang lain.

Perempuan-perempuan ada yang bercadar penuh, ada yang hanya membuka matanya dan ada yang berjilbab dengan wajah terbuka. Mereka sengaja datang ke tempat ini dengan senang hati dan penuh kerinduan. Meski mereka masing-masing harus mengeluarkan uang berpuluh juta rupiah. Kita dapat membayangkan berapa ratus miliar uang yang beredar dan berputar di kota ini setiap hari. Dahsyat.

Tetapi hal paling menarik dari fenomena ini adalah bahwa meski mereka berbeda dari banyak sekali identitasnya, namun mereka bisa saling menghormati, senyum dan memberi tempat kepada yang lain. Tak ada kata-kata kotor yang keluar dari mulut mereka. Tak ada caci maki di antara mereka. Tak ada pembicaraan menggunjing orang lain. Tak ada hoax. Tak ada kemarahan. Tak ada wajah dengan ekspresi kebencian. Tak ada yang merasa dirinya lebih hebat atau lebih pandai dari yang lain. Tak ada pertengkaran. Dan masjid dan jalan-jalan tampak bersih. Tak ada sampah yang tercecer.

Mereka merasa diri sebagai hamba-hamba Allah yang bersaudara.

(Refleksi usai Thawaf. Ditulis sambil duduk istirahat mengendapkan nafas yang lelah, di pinggir jalan yang sesak. 23.12.18).

HM

Related Posts

Populer