Islam: Kepasrahan, Keselamatan dan Kedamaian

Share on facebook
Share on twitter
Share on google
Share on linkedin
Do’a

Secara harfiyah Islam pertama-tama bermakna ketaatan, kepasrahan dan ketundukan (al-Tha’ah wa al-Taslim wa al-Inqiyad) kepada Tuhan Yang Maha Esa, kepada siapa semua ciptaan-Nya mengabdikan/menghambakan diri. Tuhan menytakan dalam kitab sucin-Nya, Al-Qur’an al-karim :”Wa Ma Khalqtu al Jinn wa al Insa Illa Liya’buduni”. Para ahli tafsir menerjemahkan ayat ini secara berbeda-beda, tetapi satu substansi, maksud. “Aku tidak menciptakan Jin dan Manusia kecuali agar mereka Menyembah-Ku, Mengenal-Ku, Meng-Esakan-Ku”. Tuhan Allah yang dipercayai kaum muslimin adalah Tuhan bagi semua ciptaan-Nya. Dialah “Rabb al-‘Alamîn”. Maka Islam hadir untuk semua makhluk Tuhan; manusia, jin dan alam semesta, kapan saja dan di mana saja. Dengan begitu di hadapan-Nya semua makhluk, tanpa melihat aneka latarbelakang social-budaya berada dalam posisi yang sama dan setara sebagai hamba Tuhan.

Islam juga berarti keselamatan dan kedamaian (salam). Nabi mengatakan: “Al-Islâm ManSalima al-Muslimûn min Lisânihi wa Yadihi” (orang Islam (muslim) adalah orang yang kehadirannya membuat rasa aman bagi orang lain baik dari ucapan maupun tangannya). Nabi Muhammad Saw selalu menganjurkan umatnya ketika bertemu untuk menyampaikan salam dengan ucapan: “Assalâmu’alaikum wa Rahmah Allah wa Barakatuh”, yang maknanya adalah “Semoga keselamatan, kedamaian, kasih saying dan keberkatan atas kalian. Nabi mengatakan bahwa di antara kewajiban seorang muslim adalah menyebarkan ‘salam’ (Ifsya al Salam). Membaca salam pada akhir shalat juga dinyatakan sebagai kewajiban dalam Islam.

Ajaran Islam ini tidak hanya dibicarakan atau diwacanakan, tetapi juga menjadi cara hidup Nabi Muhammad saw. dalam kehidupan sehari-hari. Demikian juga cara hidup khulafâ’ al-rasyidûn (para pengganti Nabi yang memperoleh petunjuk) dan para sahabat yang lain. Mereka hidup bersama orang lain yang berbeda agama tanpa membedakan, bersama orang miskin tanpa meminggirkan, bersama perempuan tanpa merendahkan, bersama orang awam tanpa membodohi, bersama orang kecil dan orang kulit hitam tanpa mengurangi hak-haknya dan seterusnya.

Sayyed Hossen Nasr, salah seorang cendikiawan muslim kontemporer terkemuka, kelahiran Iran, mengemukakan pandangannya secara lebih jauh tentang inti Islam ini. Katanya:“Jantung atau inti Islam adalah penyaksian Keesaan Tuhan, universalitas Kebenaran, kemutlakan untuk tunduk kepada Kehendak Tuhan, pemenuhan segala tanggungjawab manusia dan penghargaan kepada hak-hak seluruh makhluk hidup. Jantung atau inti Islam mengisyaratkan kepada kita untuk bangun dari mimpi yang melalaikan, ingat tentang siapa diri kita dan mengapa kita ada di sini, dan untuk mengenal dan menghargai agama-agama lain”.

Dia juga mengatakan:“Islam beranggapan bahwa semua agama yang benar didasarkan pada ketundukan mutlak kepada Tuhan. Nama Islam tidak hanya berarti agama yang diwahyukan Tuhan kepada Nabi Muhammad melalui al-Qur’ân tetapi juga seluruh agama yang autentik”.. (Baca : S. Hossen Nasr, The Heart of Islam).

Cirebon, 18 Pebruari 2011

Related Posts

Populer