Islam, menurut makna genuine-nya, pertama-tama adalah sikap pasrah kepada Tuhan Yang Maha Esa. Penganut Islam disebut muslim, yakni orang yang pasrah dan berserah diri kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dalam Islam ajaran tentang Keesaan Tuhan ini disebut Tauhid. Ia adalah inti dan prinsip tertinggi dari semua agama yang dibawa para utusan Tuhan. Dalam sebuah hadits Nabi dikatakan :
عن أبي هريرة أنَّ النَّبي صلَّى الله عليه وسلَّم قال: ((نَحْنُ مَعَاشِرَ اْلأَنْبِيَاءِ إِخْوَةٌ لِعَلاَّت*، دِيْنُنَا وَاحِدٌ

“Kami para Nabi adalah bersaudara. Keyakinan kami satu/sama”. (Hadits al-Bukhari).
Nabi Muhammad Saw. sebagai utusan Tuhan (rasul) yang terakhir hadir untuk mengajarkan kembali prinsip kepasrahan tersebut. Al-Qur’an menyatakan:
قُلْ آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ عَلَيْنَا وَمَا أُنْزِلَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالأَسْبَاطِ وَمَا أُوتِيَ مُوسَى وَعِيسَى وَالنَّبِيُّونَ مِنْ رَبِّهِمْ لا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْهُمْ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ

“Katakanlah (hai Muhammad); “Kami percaya kepada Tuhan dan kepada ajaran yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya’qub serta anak turunan mereka, dan yang diturunkan kepada Musa, Isa serta para nabi yang lain dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun dari mereka dan hanya kepada-Nya kami berserah diri. Dan barangsiapa menganut agama selain Islam (sikap pasrah kepada Tuhan), tidak akan diterima dan di akhirat termasuk orang-orang yang merugi”.

Pada ayat al-Qur’an yang lain, juga ditegaskan:

وَلَا تُجَادِلُوا أَهْلَ الْكِتَابِ إِلَّا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِلَّا الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْهُمْ ۖ وَقُولُوا آمَنَّا بِالَّذِي أُنْزِلَ إِلَيْنَا وَأُنْزِلَ إِلَيْكُمْ وَإِلَٰهُنَا وَإِلَٰهُكُمْ وَاحِدٌ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ. (آل عمران , 84-85)

“Dan janganlah kamu sekalian bertengkar (berdebat/mujadalah) dengan para pengikut Ahli Kitab (penganut kitab suci), melainkan dengan cara yang lebih baik, kecuali terhadap mereka yang melakukan kezaliman. Dan nyatakan kepada mereka: “Kami beriman kepada Kitab Suci yang diturunkan kepada kami dan kepada yang diturunkan kepadamu, sebab Tuhan kami dan Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa, dan kita semua pasrah kepada-Nya (muslimun).

Nabi Ibrahim, dalam kepercayaan Islam, merupakan bapak para nabi (Abu al-Anbiya). Karena darinyalah lahir keturunannya yang menjadi para Nabi, antara lain Ismail, Ishaq dan kemudian Isa. Kepada Nabi Muhammad, Tuhan memerintahkan dia umatnya agar mengikuti ajaran (keyakinan) Ibrahim:

ثُمَّ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَإِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ (النحل, 123)

“Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): “Ikutilah agama Ibrahim, seorang yang hanif, dan dia bukanlah termasuk orang-orang yang menyekutukan Tuhan”. Sebelumnya Tuhan mengatakan:

إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتاً لِلّهِ حَنِيفاً وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِينَ (آل عمران , 120)

“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang Imam yang dijadikan teladan. Dia seorang yang patuh kepada Tuhan dan seorang Hanif”.

Hanif adalah orang yang lurus, jujur dan yang berpegang pada kebenaran. Nabi Ibrahim As, dinyatakan al-Qur’an sebagai bukan seorang Yahudi maupun Nasrani, tetapi seorang yang hanif.

مَا كَانَ إِبْرَاهِيمُ يَهُودِيًّا وَلا نَصْرَانِيًّا وَلَكِنْ كَانَ حَنِيفًا مُسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ ( آل عمران:67)

“Ibrahim bukan orang Yahudi dan bukan pula seorang Nashrani, akan tetapi dia seorang yang lurus, berserah diri kepada Allah dan sama sekali bukan termasuk orang-orang yang menyekutukan Tuhan (musyrik)”.

Nabi Muhammad saw, pernah mengatakan : “Aku diutus Tuhan membawa ajaran agama yang hanif dan toleran”. (Bu’itstu bi al-Hanifiyyah al-Samhah).

Pernyataan al-Qur’an yang terakhir di atas tadi menarik, karena hal ini menunjukkan bahwa identitas keagamaan dan nama suatu agama bukanlah hal penting, bukan sesuatu yang princip bagi Tuhan. Hal yang menjadi perhatian utama Tuhan adalah keberagamaan atau berkeyakinan yang substansial; yakni pengakuan terhadap Keesaan Tuhan tersebut. Sementara yang ditolak dan ditentang keras oleh agama-agama langit (Islam) adalah sikap, pandangan dan praktik yang menyamakan dan mengidentikkan diri dengan Tuhan. Ini yang disebut dengan syirk atau musyrik. Terminologi Syirk atau musyrik dalam teologi kemanusiaan tampaknya tidak sekedar berarti penyembahan, pemujaan atau pengagungan terhadap patung, berhala dan sebagainya sebagaimana dipahami secara maistream oleh masyarakat beragama, tetapi lebih dari itu adalah sikap mengagungkan, memuja atau mengunggulkan diri sendiri pada satu sisi dan merendahkan ciptaan Tuhan pada sisi yang lain. Al Qur’an menganggap syirk sebagai kezaliman yang besar. Inilah pandangan yang masuk akal, karena mereka yang menganggp diri sendiri di atas atau lebih tinggi, lebih mulia, lebih hebat dari orang lain sama artinya dengan memposisikan dirinya seperti sama dengan Tuhan Yang Maha Besar, Maha Agung dan Maha Absolut itu. Sebuah pandangan yang sama sekali tidak proporsional.

Beberapa teks ayat al-Qur’an di atas dengan jelas memperlihatkan kepada kita tentang prinsip teologis Islam. Di atas prinsip inilah nabi kaum muslimin diperintahkan Tuhan untuk mengajak para pengikut agama-agama langit, pemilik Kitab Suci untuk bersatu dan bekerja bersama-sama menegakkan kebenaran, keadilan dan kemanusiaan semesta. Al-Qur’an menyatakan:

قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ (آل عمران 46)

“Katakanlah (hai Muhammad): “Wahai para penganut Kitab Suci, marilah kita menuju kepada ajaran yang sama antara kami dan kamu, yaitu bahwa kita tidak menyembah kecuali kepada Tuhan Yang Maha Esa dan tidak memperserikatkan-Nya dengan sesuatu apapun juga, dan kita tidak mengangkat sesama kita sebagai tuhan-tuhan selain Tuhan Yang Maha Esa. Akan tetapi jika mereka (para penganut Kitab Suci) menolak, katakanlah: “Jadilah kamu sekalian (wahai pengikut Kitab Suci) sebagai saksi bahwa kami adalah orang-orang yang menyerahkan diri (kepada Tuhan Yang Maha Esa).

Berdasarkan keyakinan ini pula Islam menghormati sepenuhnya para nabi dan rasul (utusan Tuhan). Ada 25 utusan Tuhan yang nama-namanya disebutkan secara eksplisit dalam al-Qur’an berikut perjalanan sejarah dan ajaran-ajaran praktis mereka. Di luar yang disebutkan itu, al-Qur’an juga mengisyaratkan adanya nabi-nabi lain, tanpa menyebutkan nama-nama mereka. Mereka semua adalah muslim, meski aturan kehidupan (syari’at) satu atas yang berbeda.

Islam: Keselamatan, Damai, dan Sehat 

Dari makna di atas, lalu terbentuklah makna lain. Yakni; al-Salamah” (keselamatan), misalnya dikatakan dalam kalimat : ”Salamat al-Insan fi Hifzh al-Lisan” (keselamatan orang dalam menjaga ucapannya), al-Salam” (damai/peace), misalnya dikatakan : ”Mu’ahadah al-Salam (perjanjian damai). Dari akar kata itu juga terbentuk kata ”al-salim” yang berarti ”al-shihhah” (sehat), misalnya dikatakan : ”al-Aql al-Salim fi al-Jism al-Salim” (akal yang sehat terletak pada tubuh yang sehat).

Dengan begitu kepasrahan kepada Tuhan membawa manusia pada keselamatan, kedamaian, sehat dan meningkat.

وَسَلامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (الصفات, 181-182)
“dan keselamatan/kesejahteraan/ kedamaian semoga dilimpahkan kepada para utusan Tuhan. Dan segala puji bagi Allah, Tuhan pengatur alam semesta”.

Cirebon, 12082013