gus dur

Kebiasaan Gus Dur memberi kepada orang-orang yang memerlukannya, dilakukannya tanpa menanyakan apakah mereka benar-benar membutuhkannya atau hanya pura-pura saja. Apakah menipu atau tidak. Gus Dur tak peduli. Beliau juga tak pernah meminta orang lain menyelidikinya. Jika pun diberitahu bahwa yang meminta itu menipu, beliau akan mengatakan: “biar saja, tidak apa-apa, asal bukan saya yang menipu”.

Gus Dur juga memberikannya tanpa melihat siapakah dia, dari golongan atau agama apakah dia. Ia tak bertanya mengenai identitas primordial seseorang. Baginya semua orang sama saja, hamba Allah. Gus Dur bahkan juga tetap memberikan kepada orang yang pernah dan masih terus mengkritik pikiran-pikirannya baik secara bisik-bisik maupun terbuka. Teman saya, AW, pernah menceritakan orang tipe yang tertakhir ini. Ia dulu adalah santri dan temannya di pesantren Tebuireng, sekaligus mengaji kitab kuning kepada Gus Dur. Jadi ia adalah santri Gus Dur sendiri. Kini ia menjadi Kiyai terkenal dan mempunyai pesantren cukup besar dan terkenal di Jakarta. Sang kiyai suatu hari datang menemui Gus Dur di Ciganjur dan memohon bantuannya untuk pengembangan pesantrennya. Ia menceritakan dengan cukup detail tentang pesantrennya yang semakin berkembang dan tak lagi mencukupi untuk santri. Ia lalu menyebutkan angka tertentu. Gus Dur mendengarkannya dengan tekun, lalu bilang kepada santrinya tersebut: “Saya tak punya uang sebesar itu, tapi Insya Allah saya akan berusaha mencarikannya. Sampeyan ikut berdoa saja ya?”.

Saya tak tahu lagi kabar setelah itu, apakah usaha Gus Dur tersebut berhasil atau tidak. Tetapi terlepas dari itu, satu hal yang sangat mengesankan adalah bahwa Gus Dur selalu saja tak pernah ingin mengecewakan mereka yang memohon bantuannya. Oh Gus Dur.

13.10.18