EMPAT term tersebut didefinisikan oleh para ulama secara beragam. Imam Jalal Al-Suyuthi, penulis tafsir Jalalain, berpendapat bahwa “Dhahir adalah makna lahir/luar. “Bathin” adalah yang samar bagaikan ruh yang suci yang tersembunyi. ‘Had’ adalah pembatas, bagaikan “barzakh”, jembatan yang mengantarkan makna lahir ke makna batin. ‘Mathla’ adalah makna yang mengantarkan kepada pengetahuan tentang hakikat sesuatu.
Sufi besar Abd Allah Al-Muhasibi memaknainya: “Dhahir adalah bacaannya (tilawah), bathin adalah takwil, had adalah puncak pemahaman dan mathla’ adalah hal yang melampaui batas, ekstrem dan kedurhakaan”.
Al-Sulami (w.937), sufi terkemuka, mengatakan: “Dhahir adalah bacaannya, bathin adalah takwil, had adalah hukum-hukum halal-haram dan mathla’ adalah kehendak Tuhan”.
Muhyiddin Ibn ‘Arabi, maha guru kaum sufi, menyampaikan sebuah pengetahuan hermeneutis yang diakuinya sebagai hasil informasi Nabi kepada dirinya melalui mekanisme ‘kasyf” (ketersingkapan, limpahan, emanasi). Katanya:
“Nabi bersabda bahwa Tuhan tidak menurunkan sebuah ayat kecuali mengandung makna lahir dan makna batin. Dan setiap huruf mengandung makna had dan mathla’. Dhahir adalah tafsir, bathin adalah ta’wil, had adalah batas pemahaman manusia dan mathla’ adalah pengetahuan manusia yang mengantarkannya kepada pencapaian kondisi dapat menyaksikan Tuhan.
Sementara itu, Ja’far al-Shadiq, Imam Sy’iah terbesar mengatakan:
ان فى كتاب الله امورا اربعة : العبارة والاشارة واللطاءف والحقاءق. فالعبارة للعوام والاشارة للخواص، واللطاءف للاولياء والحقاءق للانبياء
Alquran itu mengandung empat makna: Ibarat, Isyarat, Lathaif dan Haqiqat. Ibarat untuk orang awam, Isyarat (kode) untuk orang-orang tertentu (filsuf ?), Lathaif untuk para Wali dan Haqiqat untuk para Nabi).
16/10/2019