Ekstase

Share on facebook
Share on twitter
Share on google
Share on linkedin
Ekstase

Layla dipisahkan paksa dari Qais, kekasih hatinya. Orang tua Layla tak ingin anaknya berhubungan dengan Qais yang miskin dan tak semartabat. Meski begitu Qais tak luka. Ia tetap yakin Layla selalu ada di hatinya. Hari-hari dilalui Qais dengan merindui Layla. Layla juga merindui Qais. Bila hati Qais bergetar, hatinya juga bergetar. Namun cinta itu tak berakhir dengan penyatuan tubuh.

Tak lama kemudian Qais menjadi “majnun” (gila). Layla terkurung di dalam rumahnya. Qais pergi membawa hati Layla ke dalam hutan, berlindung di dalam goa yang ada di sana. Ia berteman akrab dengan penghuni hutan. Cinta dan rindu dendamnya kepada Layla ia ceritakan kepada teman-temannya itu. Meski mereka tak paham bahasa, tetapi hati mereka mengerti. “Jika pandangan mata saja telah dipahami, untuk apa yang dikatakan”.

Majnun tak suka makan dan minum. Itu berlangsung berhari-hari. Jikapun ia lapar, ia hanya mengambil dedaunan atau buah yang ada didepannya, sekedarnya. Meski ia tak makan berhari-hari, tetapi ia tetap ceria dan sehat. Hari-harinya diisi dengan bersenandung nama kekasihnya : Layla. Bila ada orang yang lewat, dia segera bangkit. Hatinya berdebar-debar “Barangkali Layla bersamanya”, kata hatinya. “Kalian bersama Layla”, tanyanya. Bila kemudian dijawab tidak, ia kembali ke tempatnya. Kepada rusa yang selalu datang, ia mengatakan : “Layla, mengapa kau tak datang bersamanya”?, sambil membelai-belai kepalanya.

Dalam gulita malam yang hening, Majnun mendengar Layla memanggil-manggil dengan suaranya yang memelas. Ia memendam rindu yang tak tertahankan. Ia mencari-carisuara itu ke seluruh pelosok hutan. Bila tak dijumpai di sana,ia bergegas datang ke arah rumah Layla. Ia tak lagi peduli dengan tubuhnya yang kotor dan berbau tak sedap, serta rambutnya yang telah menjadi gimbal, atau gembel. Bila malam kemudian menjelang, ia segera menyalakan kayu. Dan dengan obor kayu di tangan ia menuju rumah Layla.

Layla yang di dalam rumah merasa kekasihnya akan datang. Ia memang terus menyebut nama Majnun dalam rintihan yang memelas. Ia mengintip ke luar. Hatinya bergemuruh keras, saat matanya melihat Majnun di depan halaman rumahnya sambil memegang obor kayu. Ia membuka pintu. Mata Majnun tak berpaling dari matanya. Ia juga tak berpaling kepada yang lain. Api kayu bakar menjalari tangannya. Tetapi majnun tak merasakannya. Dirinya telah hilang dalam Layla. Masih dalam saling menatap. Layla seperti tak percaya kekasihnya datang, lalu bertanya : “Kamu Qais?”. Majnun berteriak : “Bukan. Aku Layla”. “Aku bukan Qais. Aku Layla”. “Aku adalah Kau”. Qais mengalami ekstasi : “Hulul”, “Ittihad” dan “Fana” (hilang bentuk, lebur). Qais al-Majnun itu semaput. Layla tak bisa lagi menangis. Air matanya telah terkuras dan tak lagi tersisa. Tubuhnya kaku. Ia terkulai dan jatuh.

Related Posts

Populer