Indonesia adalah negara dengan jumlah penduduk besar: sekitar 250 juta. Ia negara kepulauan (maritim). Di situ, konon, ada sekitar 17.504 pulau, dengan tidak kurang dari 300 suku, berikut adat, tradisinya, agama, keyakinan, kepercayaannya dan bahasanya masing-masing, yang berbeda-beda. Sudah ratusan mereka ada, hidup dan berkehidupan dalam suasana kesalingan yang indah. Dan negara menjamin perlindungan atas mereka.

Tetapi itu dulu dan dulu sekali. Tahun 1998 Reformasi kemudian bergulir atau digulirkan sebagai sebuah keniscayaan sejarah. Ia adalah cara manusia Indonesia untuk bersuara, sesudah sekitar selama 32 tahun, sebelumnya, tak bisa bersuara dan dihimpit ketakutan-demi ketakutan oleh represi demi represi aparatur negara atas nama ketertiban dan ketenangan. Rakyat seperti tak ada lagi merdeka. Sejak itu keadaan berubah. Suara riuh-rendah, hingar-bingar dan gegap-gempita terdengar di mana-mana, seperti baru saja merdeka. Saya kira ini kewajaran belaka.

Tetapi betapa memilukannya, bila kemudian kekayaan rakyat, diam-diam, hilang dirampok oleh tangan-tangan kekuasaan, demi hasrat kenikmatan diri yang tak terbatas, dan rakyat harus kembali dihimpit kemiskinan dan penderitaannya. Lebih dari itu konflik dengan cara kekerasan antar anak-anak bangsa, karena hasrat-hasrat berkuasa yang tak terkendali, harus terjadi. Dalam situasi ini hal yang paling mencemaskan hati adalah jika agama dijadikan senjata, tameng atau bendera. Agama yang seharusnya hadir untuk mendamaikan hati, membagi kasih dan kebahagiaan harus dikorbankan orang-orang yang mengaku diri sebagai pemeluk setianya. Wajah agama jadi coreng moreng, blepotan dan tak lagi menarik. Dan adalah ironi, negara (para pemimpin negara) sepertinya, tak hadir, tak tampil, tak mampu melerai dan mengelola, meski sering bicara manis. Energi sosial yang begitu dahsyat seakan tak lagi memberi keberkahan bagi bangsa ini. Impian Kemerdekaan untuk kesatuan negara bangsa dan keadilan bagi seluruh anak-anak negeri yang bermukim di sini, tanpa kecuali, masih harus menunggu waktu yang panjang dengan menyimpan rasa ”galau”. Kemerdekaan 1945, lalu hanya disakralisasi dalam upacara-upacara atau ritual-ritual yang megah.

Cirebon, 14082013