Category: Puisi

rabiah-al-adawiyah

Munajat Rabi’ah Al-‘Adawiyah: Malam Terakhir Ramadan (Bag. 2)

اللّهُمَّ اجْعَلِ الْجَنَّةَ لِأَحِبَّائِكَ وَالنَّارَ لِأَعْدَآئِكَ ا َمَا اَنَا فَحَسْبِى أَنْتَ يَا حَبِيبَ الْقَلْبِ مَا لِى سِوَاكَ فَارْحَمِ الْيَوْمَ مُذْنِباً

rabiah-al-adawiyah

Munajat Rabi’ah Al-‘Adawiyah: Malam Terakhir Ramadan (Bag. 1)

اِلهِي نَامَتِ الْعُيُون وأَنَارَتِ النُّجُومُ وَخَلاَ كُلُّ حَبِيبٍ بِحَبِيبِهِ وَأَنْتَ حَبِيبُ الذَّاكِرِينَ وَأنِيسُ الْعَابِدِينَ هَذَا مَقَامِى بَيْنَ يَدَيْكَ أَسْأَلُكَ أَنْ

buya husein

Puisi Labid

Di kafe basa basi Yogyakarta, tadi malam, 14.10.18, aku membacakan puisi ini lagi. Labid bin Rabi’, penyair besar Arab pra

umar-al-khayyam

Bisikan Dini Hari

افنيت عمري في ارتقابِ المُنى ولم أذق في العيشِ طعم الهنا وإنَّني أُشفقَ أن يَنقَضي عمري وما فارقت هذا العَنا

al hallaj

Dalam diriku ada Diri-Mu

Saat aku melepas anak-anak ku kembali ke rumah masing-masing dan mencari dirinya sendiri, aku merasa kehilangan. Lalu aku menyenandungkan puisi

buya husein

Aku adalah Kau

Seorang penyair klasik nan bijakbestari menyenandungkan puisi manis ini: Dari Cinta kita berasal Dari Cinta kita terlahir Di bawah naungan

Ia Tetap Eksis

Meski banyak orang mengkritik Imam Abu Hamid al-Ghazali, tetapi beliau tetap saja eksis sepanjang zaman. Kitab al-Ihya telah dicetak beribu

munajat

Munajat

Wahai Yang Maha Tahu segala rahasia semesta Wahai Yang Membebaskan segala duka-lara Wahai Yang Menerima segala penyesalan Mereka yang melawan

Merindukan Konya

Aku merindukan Konya musim semi dan bunga warna warni di pelataran rumput hijau di perbukitan. Dan aku membuka lagi catatan

Pulanglah Bulbul

فِى يَومِ وَفَاةِ غُوسْ دُورْ قُلْتُ لَهُمْ : كَيْفَ لَا يَطِيرُ البُلْبُلْ وَيُمَزِّقُ اَلْفَ حِجَابٍ حينَمَا نَادَاهُ الْحَبِيْبُ : إِرْجِعِى