umar-al-khayyam

افنيت عمري في ارتقابِ المُنى
ولم أذق في العيشِ طعم الهنا
وإنَّني أُشفقَ أن يَنقَضي عمري
وما فارقت هذا العَنا

Telah kuhabiskan hari-hariku
Untuk mengejar harapan demi harapan
Duhai, betapa manisnya harapan itu
Tapi aku selalu tak pernah bisa mencecapnya

Aku amat cemas
Duuh, hari-hariku sebentar lagi habis
Sedang lelahku mengejar
tak jua lepas

يا عالمَ الأسرار عِلمَ اليَقين
وكاشِفَ الضُرِّ عن البائسين
يا قابل الأعذار عُدْنا إلى
ظِلِّكَ فاقْبَلْ تَوبَةَ التائبين

Duhai Yang Maha Tahu segala rahasia semesta
Duhai Yang Membebaskan
Segala duka nestapa mereka yang menderita
Duhai Yang Menerima segala penyesalan
Izinkan aku berteduh di bawah Payung-Mu
Sambutlah mereka yang kembali
Yang mohon ampunan dan pertolongan-Mu

(Umar al-Khayyam).
Ia seorang filsuf, astronom, dan penyair besar, kelahiran Nisapur, Persia, Iran, 1048-1124. Kumpulan syairnya yang sangat terkenal adalah “Ruba’iyyat” (The Quatrains). Sebagiannya yang di atas itu.

Di atas kereta Argo Bromo Anggrek
02.10.18