Berselfie Ria

0
355

Adik-adikku dan teman-temanku ramai-ramai berangkat umroh. Masing-masing bersama anak-anaknya. Sampai di Makkah dan Madinah mereka meng-upload foto dan dishare melalui medsos: Facebook, Instagram dan WA. Alhamdulillah. Nah melihat ini aku jadi ingat lagi pengalaman masa laluku saat di sana.

Tahun 1981 aku menunaikan haji pertama. Aku haji bergaya “backpacker”, bersama teman-teman dengan mengambil jalan laut. Meskipun lama tetapi mengasyikkan dan sangat mengesankan.

Aku berangkat dari pelabuhan Suez, Mesir, mengarungi laut merah yang tenang menuju pelabuhan Jeddah. Saudi Arabia. Perjalanan ditempuh selama dua malam.

Di Makkah aku ikut numpang teman mukimin. Di Syib Ali, dekat jabal Qubaisy, kira2 200 M dari Masjidil haram. Suatu hari, aku mengantar jamaah haji dari kampung ku berziarah ke jabal Tsaur, gunung tempat Nabi dan Abu Bakar bersembunyi dari kejaran kaum kafir Quraisy yang akan menangkap dan membunuh beliau.

Di situ, di bawah gunung itu, aku ambil kamera, lalu jeprat, jepret. Para jamaah itu tampak senang. Foto itu akan menjadi kenangan yang abadi. Tanpa diduga tiba-tiba Askar (satpol PP) mengejar dan merampas kameraku. Katanya: “Haram, haram, mamnu’ tashwir”, dilarang ambil foto. Aku bersedih hati. Hicks, Hicks. Para jemaah menyaksikan itu dan sebagian menangis.

Mengapa dirampas? Saat itu foto dilarang, haram, baik di Masjid Haram, maupun di tempat-tempat lain yang bersejarah, termasuk di jabal Abi Qubais dan rumah kelahiran yang telah menjadi perpustakaan.

Mengapa dilarang?. Kata teman-teman, menganalisis : “jika di Masjidil haram, larangan foto itu tepat, karena jika dibolehkan, nanti para jemaah haji atau umrah akan disibukkan untuk foto. Ibadah jadi terganggu, tidak khusyuk. Di samping itu Ibadah haji juga bukan piknik atau bersenang-senang.

Nah, hari ini kita menyaksikan para jemaah pada Selfi, sendiri-sendiri atau bersama-sama, berombongan, bahkan ada yang siaran langsung melalui alat komunikasi modern bikinan orang asing. Mereka berselfie ria bukan hanya di tempat-tempat bersejarah, melainkan di depan Kakbah di Makkah, dan di dekat Raudhah atau di depan pintu makam Rasulullah Saw. Askar-askar tampaknya tak lagi melarang apalagi merampas kamera. Bahkan mereka senang diajak berselfi ria. Argumentasi di atas kini telah gugur. Zaman telah berubah. Apa yang dulu dilarang (haram) sekarang menjadi boleh (halal). Kini tak terdengar lagi suara Askar (polisi): haram, haram haram. Pikiran dan pandangan konservatif akan ditinggalkan dengan sendiri. Perubahan adalah niscaya, tak bisa dihentikan. Itu hukum alam. Menghentikannya adalah kesia-siaan belaka.